.

..

Friday, December 17, 2010

Privatisasi adalah Kolonialisasi

Pernahkan anda memperhatikan iklan yang dikeluarkan exxon mobile? perhatikanlah deteil kata-kata yang disampaikan 'pajako'!

Exxon mobil adalah adalah perusahaan minyak dan gas global yang bekerja sama dengan Indonesia, untuk memproduksi lebih banyak energi

Dengan berbagai teknologi dan pengalaman kami turut mengembangkan bisnis dan menggerakkan roda perekonomian,

Kami menatap jauh kedepan, dengan memberikan dukungan bagi berbagai inovasi serta turut memajukan pendidikan untuk membantu mengembangkan generasi penerus Indonesia

kami adalah exxon mobile.


bagi penulis iklan ini menyakitkan, hingga dalam hati “tutuah lah de’ lu(buset)”


Privatisasi : Budaya Bangsa

ExxonMobil yang berkantor pusat di Irving (Texas), perusahaan penghasil dan pengecer minyak yang dibentuk pada 30 November 1999 melalui penggabungan Exxon dan Mobil. perusahaan ini merupakan perusahaan terbuka yang terbesar di dunia. Keuntungan operasinya pada 2005 sebesar AS$36,13 milyar atau Rp 332,396,000,000,000 (sebuah rekor untuk perusahaan diperdagangkan publik), sedikit lebih kecil dari PDB (Product Domestic Bruto) Azerbaijan, sedangkan pendapatannya lebih besar dari PDB Arab Saudi. dan tahun 2009 meningkat lagi menjadi 442,85 miliar (Republika online ; Rabu, 22 April 2009)

Exxonmobile tidak sendiri. ada beberapa perusahaan sejenis yang mengelola sumber daya alam Indonesia. Dan hampir sumur minyak di Indonesia telah dikuasai oleh perusahaan raksasa minyak asing yang merupakan perusahaan multinasional Selebihnya, Pertamina yang memproduksi. Dalam skala lebih kecil muncul belakangan pengusaha-pengusaha swasta nasional yang ikut terjun dalam bisnis minyak bumi seperti Arifin Panigoro dengan Medconya, Tommy Soeharto dengan Humpussnya, Ibrahim Risjad, Srikandi Hakim dan Astra International. Perusahaan terkenal lainnya yang terbesar di Indonesia adalah Freeport: perusahaan multinasional ini mengelola tambang emas terbesar di Papua sejak tahun 1967. laba bersih perusahaan ini tahun 2009 adalah US@ 2.33 miliar atau Rp.21,436,000,000,000 (kurs: US$1= Rp 9200,-) (inilah.com 2/12/2009). Dan royalti yang diberikan kepada pemerintah hanya 1-3.5% .

jangan anggap budaya bangsa hanya cukup tari, batik, korupsi atau hal remehtemeh, budaya yang paling fatal adalah Privatisasi, budaya ini sangat menyengsarakan yang akibatnya dapat kita rasakan sendiri. Akibatnya di negeri ini terjadi pemadaman listrik bergiliran disaat California terang benderang 24 jam, anak-anak negeri busung lapar sedangkan anak-anak barat dilanda obesitas.

Budaya privatisasi ini dilegalisasikan oleh penguasa dengan diterbitkannya beberapa undang-undang, seperti UU SDA, UU Penanaman MOdal, UU Pendidikan dll. sehingga dapat kita lihat bahwa telah berlangsung penjualan dan penggadaian harta masyarakat kepada kapitalis barat dengan harga murah. Hendri Saparani, PhD mengatakan 90% kekayaan migas negeri ini sudah berada dalam cengkraman pihak asing.

Kondisi Ideal
Diakui bahwa kondisi ideal dalam masyarakat kapitalis memang seperti kondisi di atas. negara yang lemah akan dimangsa negara yang kuat. menurut Amin Rais kalo Indonesia mau maju maka harus berani menjajah negara lain.

tenang, kita ada cara lain, yakni solusi Islam.
mungkin sebagian kecil pembaca akan berkata ini sekedar NATO atau Omdo, baiklah mari kita kaji dan buktikan bahwa cara islam sebagai satu-satunya solusi. apakah nanti akan diterapkan oleh negara atau tidak akan kita bahas dilain kesempatan.

firman Allah dalam surat:

wannaazalna ‘alaikal kitab, tibyanallikullisyai'in...

..Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu ..(an-nahal 89)


Terkait dengan persoalan yang kita bahas, yakni pengelolaan sumber daya alam dan energi, Islam memilliki serta menetapkan aturan tersendiri yang khas, hadits riwayat Imam At-Tirmidzi dari Abyadh bin Hamal, dicaritakan bahwa : Abyad telah meminta kepada Rasul untuk dapat mengelola sebuah tambang garam. Rasul meluluskan permintaan itu, tapi segera diingatkan oleh seorang shahabat,
“Wahai Rasulullah, tahukah engkau, apa yang engkau berikan kepadanya? Sesungguhnya engkau telah memberikan sesuatu yang bagaikan air mengalir (ma’u al-‘iddu)” Rasulullah kemudian bersabda: “Tariklah tambang tersebut darinya”.

Yang menjadi fokus dari hadits tersebut tentu bukanlah “garam”, tetapi dilarangnya individu untuk menguasai tambang yang dikiaskan seperti air yang mengalir (ma’u al-‘iddu). Penarikan tambang garam dari Abyad merupakan illat bahwa sumber daya alam tidak boleh dikuasai individu

Kemudian diperkuat lagi dalam hadits Rasulullah
al muslimun na surakai fi tsalatsin, al maa', al kula', wal naar..
artinya: kaum muslimin berserikat atas tiga perkara, yakni padang rumput (hutan), air, dan Api (energi) (HR. Abu ‘Ubaid dalam al-Amwaal)

kemudian Al-‘Assal & Karim (1999: 72-73) mengutip pendapat Ibnu Qudamah dalam Kitabnya Al-Mughni mengatakan:
Barang-barang tambang yang oleh manusia didambakan dan dimanfaatkan tanpa biaya, seperti halnya garam, air, belerang, gas, mumia (semacam obat), petroleum, intan dan lain-lain, tidak boleh dipertahankan (hak kepemilikan individualnya) selain oleh seluruh kaum muslimin, sebab hal itu akan merugikan mereka”.

maka idealnya tambang energi yang ada di negeri-negeri muslim merupakan milik rakyat dan diserahkan kepada penguasa untuk mengelolanya, biaya yang timbul atasnya (gaji penambang, tenaga ahli asing, atau sewa teknologi dll) diambil dari harga jual ke masyarakat dengan harga pokok.

Begitulah idealnya cara mengelola SDA dalam islam, semuanya itu hanya lembaran teori/draft/rancangan undang-undang (RUU). Dan dengan sangat terpaksa kami sampaikan semuanya itu tidak bernilai apapun jika tidak diterapkan oleh negara (Khilafah Islam). Itulah substansi mengapa pentingnya perjuangan negara khilafah, negara yang mengelola SDA dengan aturan yang ditetapkan assyari’ (Allah swt)

SDA Pemasukan negara
Dalam sistem ekonomi islam, negara mempunyai sumber-sumber pemasukan bagi membangun dirinya yang ditetapkan oleh syariat melalui Baitul Mal. Baitul Mal adalah kas negara untuk mengatur sirkulasi pemasukan dan pengeluaran harta yang dikelola oleh negara.. Sektor-sektor pemasukan dan pengeluarannya Kas Baitul Mal, adalah:

1.Sektor kepemilikan individu
Pemasukan dari sektor kepemilikan individu ini berupa zakat, infaq dan shadaqah. Untuk zakat, karena kekhususannya, harus masuk kas khusus dan tidak boleh dicampur dengan pemasukan dari sektor yang lain. Dalam pengeluarannya, khalifah (kepala negara dalam pemerintahan Islam) harus mengkhususkan dana zakat hanya untuk delapan pihak, sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Al-Qur’an (At-Taubah: 60), yaitu: 1). Faqir, 2). Miskin, 3). Amil zakat, 4). Muallaf, 5) Memerdekakan budak, 6) Gharimin (terlilit hutang), 7). Jihad fi sabilillah, 8). Ibnu sabil (yang kehabisan bekal dalam perjalanannya). Sementara, infaq dan shadaqah pendistribusiannya diserahkan kepada ijtihad khalifah yang semuanya ditujukan untuk kemashlahatan ummat.

2.Sektor kepemilikan umum
Pemasukan sektor ini adalah segala milik umum baik berupa hasil tambang, minyak, gas, listrik, hasil hutan dsb. Pemasukan dari sektor ini dapat digunakan untuk kepentingan:
a.Biaya eksplorasi dan eksploitasi sumber daya alam, mulai dari biaya tenaga kerja, pembangunan infrastruktur, penyediaan perlengkapan, dan segala hal yang berhubungan dengan dua kegiatan pengelolaan sumber daya alam di atas.
b.Membagikan hasilnya secara langsung kepada masyarakat yang memang sebagai pemilik sumberdaya alam itu berhak untuk mendapatkan hasilnya. Khalifah boleh membagikannya dalam bentuk benda yang memang diperlukan, seperti air, gas, minyak, listrik secara gratis; atau dalam bentuk uang hasil penjualan.
c.Sebagian dari kepemilikan umum ini dapat dialokasikan untuk biaya dakwah dan jihad.

3.Sektor kepemilikan negara
Sumber-sumber pemasukan dari sektor ini meliputi fa’i, ghanimah, kharaj, seperlima rikaz, 10% dari tanah ‘usyriyah, jizyah, waris yang tidak habis dibagi dan harta orang murtad. Untuk pengeluarannya diserahkan pada ijtihad khalifah untuk kepentingan negara dan kemashlahatan ummat.


Ihdinassyiratal musta’qim
Sesungguhnya Allah telah memberikan petunjuk yang lurus untuk hidup di dunia ini. Ada beberapa aturan yang bisa kita laksanakan saat ini dan sekarang juga tampa harus nato dan omdo seperti shalat, puasa, zakat, haji, nikah, waris, akhlak dan ibadah-ibadah individu lainnya. Namun setelah pernah dipraktekkan Rosul saw., dan khalifah setelahnya selama 1300 tahun muncul mustafa kamal pada tahun 1924 menghancurkan institusi khilafah. akibatnya saat ini 90% lagi kewajiban atas aturan Allah justru tertunda kita laksanakan seperti perkara ekonomi (SDA dll), politik, uqubat, pendidikan, persanksian, politik luar negeri, jihad offensif, hankam dan sosial karena secara fiqh/khazanah ilmu islam membuatnya ia tertunda kecuali dikembalikannya institusi negara (khilafah). Dan untuk itulah tulisan sederhana ini dibuat!! Wallahua’lam.




Padang, 16 Desember 2010
-thirdsilver-

0 comments:

Post a Comment