.

..

Tuesday, October 26, 2010

Mahasiswa Kini dan Nanti

Artikel ini dibuat sebagai Refleksi 1 tahun KMII)

Mahasiswa takut pada Dosen…
Dosen takut pada Dekan…
Dekan takut pada Rektor…
Rektor takut pada Menteri…
Mentri Takut pada Presiden…
Presiden Takut pada Mahasiswa…
(Taufik Ismail, 1998)


Penggalan puisi diatas merupakan sepenggal gambaran dari maestro sastra Indonesia. Puisi ini mengisyaratkan adanya peran vital dari mahasiswa. Mereka, mahasiswa dimanapun keberadaannya senantiasa menoreh sebuah rekam jejak fenomenal. Rekam jejak yang menjadikannya terus dikenang dalam sebuah bingkai perjuangan yang sulit terkikis masa dan waktu. Mahasiswa kini dan nanti, keberadaanya akan senantiasa mewarnai arah perubahan negeri ini. Sebuah realita yang tidak akan pernah terganti sampai kapanpun.

Mahasiswa kini dan nanti… keberadaanya mulai terkikis oleh pragmatisme diri mereka sendiri. Sumpah mahasiswa yang selalu lantang diteriakan dalam aksi dan demonstrasi seolah menjadi usang. Usang dan terhantam oleh keusangan serta kekeringan ideologi pergerakan yang bergerak ke arah nol. Ya… apalah arti dari gemuruh lantang “HIDUP MAHASISWA” apalah esensi seruan “SUMPAH MAHASISWA” ketika hari ini berbondong-bondong mahasiswa lebih suka duduk manis dalam acara talk show dan dagelan politik di Televisi. Ingat kawan… perubahan fundamental yang kita harapkan, tidak akan pernah muncul dari layar flat televisi. Sementara itu, intelektualitas kian tersudut dan tergantikan oleh aksi-aksi brutal khas mahasiswa. Bakar ban, blokir jalan, lempar batu, tawuran, bentrok dengan polisi, semuanya menyisakan pertanyaan dalam benak rakyat yang menantikan peran kita, “Apa yang sebenarnya mahasiswa bisa lakukan saat ini?”. Dan, pertanyaan serupa aku sampaikan pada sidang pembaca sekalian…

Disadari ataupun tidak, pada hakikatnya mahasiswa adalah fase dimana manusia berada pada masa kalkulatif (tercerahkan) oleh ilmu pengetahuan yang diperolehnya. Senada dengan hal itu, sudah sepantasnya orientasi pergerakan mahasiswa adalah untuk menumbuhkan kemampuan intelektualitas. Kemampuan yang bukan hanya memfokuskan pada kekuatan tetapi juga daya kritis untuk merespon isu-isu kekinian. Disinilah mahasiswa harus mampu menampilkan fakta-fakta terkait problematika masyarakat yang sesungguhnya. Disinilah mahasiswa dituntut dengan kemampuan intelektualitasnya, untuk mampu mencari solusi sekaligus memecahkan akar permasalahan tersebut.

Dalam tatanan inilah mahasiswa membutuhkan ideologi dan pandangan hidup. Dua hal itu yang kemudian menjadi bara penggelora perjuangan mahasiswa. An Nabhaniy dalam bukunya "at takaatul al hizbiy" menegaskan bahwa ideologi merupakan perkara mutlak untuk membangkitkan masyarakat. Artinya, ketika mahasiswa menginginkan sebuah perubahan fundamental bagi rakyat dan negeri ini, maka mahasiswa harus mengadopsi satu ideologi untuk dipahamkan kepada rakyat. Karena hanya ideologi yang akan membangkitkan rakyat sekaligus menciptakan perubahan fundamental. Artinya pula, mahasiswa harus menjadi garda terdepan golongan masyarakat yang memiliki pemahaman ideologi.

Masih tentang ideologi, saat ini terdapat 3 ideologi besar dunia yang siap merubah masyarakat. Islam, Sosialisme, Kapitalisme. Mahasiswa dituntut cerdas dalam memilih salah satu ideologi tersebut. Saat ini Kapitalisme masih memegang kendali dunia dengan intervensi penjajahan Amerika atas negara lain. Sementara Sosialisme sudah hancur seiring dengan runtuhnya ekskalasi politik Uni Sovyet yang berujung pada terpecahnya negara tersebut menjadi beberapa negara. Sementara itu, sampai saat ini Islam masih terpelihara dengan baik dalam individu-individu yang meyakininya sebagai ideologi.

Banyaknya organisasi kemahasiswaan yang menjadikan Islam sebagai orientasi pergerakannya, merupakan bentuk kesadaran mahasiswa untuk tetap menjadikan Islam sebagai semangat dalam mendorong kemampuan intelektual mahasiswa. Namun, bukan berarti Islam lantas kemudian dipahami sebagai ideology oleh kebanyakan organisasi tersebut. Masih banyak kita temui organisasi mahasiswa berbasis Islam yang melakukan pergerakan dan perubahan dengan cara-cara anarkis dan brutal. Cara-cara semacam ini jelas bukan cara yang seharusnya ditempuh oleh mahasiswa. Alasannya, selain karena tidak bersifat intelektual, cara-cara brutal seperti itu pun tidak pernah sekalipun diajarkan dalam Islam.

Andaikan ideologi Islam benar-benar dijadikan dasar aktivitas pendorong kemajuan intelektual mahasiswa, yang bertujuan mencetak kepribadian islam dalam diri mahasiswa. Andaikan Ideologi Islam benar-benar dipahami sebagai pandangan hidup yang harus diimplementasikan. Niscaya hal ini akan mampu menyatukan visi dan misi mahasiswa dalam meraih perubahan fundamental.

Bahkan dalam ruang lingkup lokal yang lebih sempit, hal ini dapat menghilangkan beberapa kebudayaan pembinaan mahasiswa yang hanya bersifat momentum dan parsial. Sebut saja salah satunya adalah kegiatan ospek. Walupun tradisi perpeloncoan sudah hilang dari kegiatan ospek, ternyata mahasiswa masih dipelonco dengan diberikan tugas-tugas yang terkadang kurang intelek dan elegan. Mahasiswa baru dipaksa menggunakan atribut yang memalukan apabila digunakan di tempat umum. Mereka dipaksa menyanyikan yel-yel dengan gaya dan tarian yang menghibur. Pertanyaannya, apakah para mahasiswa baru ini sengaja akan diperkenalkan dengan dunia hiburan? Atau, mahasiswa memang sedang dididik untuk bisa menjadi para penghibur? Inilah realita ketika proses pembinaan mahasiswa tidak menjadikan kristalisasi ideologi Islam sebagai landasan untuk mendasari setiap aktivitasnya.

Kristalisasi ideologi Islam tidak dapat dilakukan dengan cara instan, dan melalui cara-cara pemaksaan seperti yang sering kita saksikan dalam kegiatan ospek. Kristalisasi ideologi Islam hanya bisa dilakukan melalui proses pembinaan (tatsqif) yang dilakukan melalui kajian-kajian intensif. Kristalisasi ideologi Islam tidak akan dapat diraih dalam demonstrasi, tidak pula dalam poster, pamplet atau teriakan-teriakan orasi. Itu semua hanya bagian terkecil refleksi keberhasilan proses kristalisasi ideologi (red. Islam). Dalam kajian yang intensif inilah mahasiswa diperlihatkan berbagai macam realitas sosial, termasuk berbagai macam permasalahan kehidupan kemudian menjadikan Syariat Islam sebagai pisau analisis mereka. Hanya dengan pola semacam inilah, daya kritis mahasiswa akan terasah hingga mendorong kemampuan intelektualnya. Sehingga, mahasiswa akan memiliki “kekuatan berpikir” bukan “berpikir kekuatan”.

Dengan pola seperti ini, mahasiswa dapat memahami sebuah gambaran bagaimana cara merubah masyarakat dan negeri ini ke arah yang lebih baik. Pertama, pahami persepsi tentang fakta perubahan, yaitu dengan membuat sebuah kerangka yang menggambarkan realitas saat ini dengan tujuan perubahan dan persepsi tentang ide (red. ideologi). Kaitkan ketiga unsur tersebut, agar langkah yang diambil merupakan langkah yang tepat. Karena Islam adalah aturan yang harus diterapkan dalam semua aspek, maka persepsi tentang kehidupan pun harus bertolak dari persepsi Islam. Apabila kehidupan saat ini harus dipandang dengan diberlakukannya Syariat Islam dalam seluruh aspek kehidupan, maka sistem yang diterapkan pun haruslah sistem Islam. Bukan yang lain!

Kedua, sesungguhnya konsepsi tentang perubahan dapat dikategorikan menjadi dua, Evolusi (ishlah) atau Revolusi (Inqilabiyah). Dua konsep ini merupakan konsep perubahan yang akan merubah tatanan sosial masyarakat. Karena pada dasarnya, perubahan sosial merupakan perubahan (fungsional dan structural) dari unsur sosial (yang terdiri dari individu, masyarakat dan sistem sosial). Perubahan fungsional dapat diidentifikasi ketika perubahan tersebut hanya menyentuh aspek perubahan unsur dan fungsi sosial (Evolusi). Perubahan inilah yang terjadi di Indonesia ketika tahun 1998. Sementara perubahan structural tercipta apabila unsur-unsur sosial yang ada berhasil membentuk pola ikatan yang baru sama sekali berdasarkan suatu ideologi yang mendasarinya (Revolusi).

Ketiga, siap dengan segala kondisi pertentangan. Akan senantiasa ada sekelompok orang yang memiliki kepentingan tertentu untuk menentukan arah dan titik akhir perubahan ini. Ada pula kelompok yang berkeinginan untuk tetap mempertahankan stagnasi masyarakat (berdiam diri tanpa perubahan). Kelompok inilah yang akan bertindak kontra-aksi dengan para mahasiswa yang menginginkan perubahan dan menjadikan Islam sebagai landasan. Namun, keberadaan kelompok-kelompok tersebut tidak akan berarti ketika proses kristalisasi ideology Islam telah berhasil terhujam dengan kuat.

Disinilah tugas vital mahasiswa sesungguhnya, yaitu mengarahkan pergerakan mahasiswa agar menjadikan nilai dan ide-ide Islam yang menyeluruh (ideologis) sebagai landasan pergerakannya. Menjadikan masyarakat sebagai bagian integral untuk mewujudkan sinergisitas perubahan yang dipelopori mahasiswa. Sehingga, mahasiswa kini dan nanti dengan Ideologi Islam yang terhujam dalam pemikirannya akan tetap berpihak pada masyarakat dan kebenaran (red. Islam). Akhirnya, kebangkitan dan perubahan bukan semata menjadi utopia mahasiswa, melainkan menjadi harapan bagi rakyat seluruhnya.

Wallahualam
Dari berbagai sumber dan berbagai kajian

0 comments:

Post a Comment