.

..

Tuesday, July 28, 2009

PILIH ISLAM ATAU DEMOKRASI?

Oleh: Harry Mukti (Facebook)
Dua kata di atas seakan sangat menarik untuk di benturkan. Hasilnya adalah ada yang pilih Islam karena alasan macem-macem (ideology, dll); ada yang memilih demokrasi karena juga alasan yang beragam; ada juga yang mengambil jalan tengah untuk tidak menolak keduanya alias memilih untuk mengatakan “kan sama aja antara Islam dan Demokrasi gak ada yang berbeda”.


Pada tulisan ini kami akan menyoroti mereka yang menganggap antara Islam dengan Demokrasi adalah sama. Sedangkan bagi yang menolak Islam (jika mereka muslim) maka kami cukup mengatakan kepada mereka bahwa bersegerahlah untuk bertobat karena sungguh pada keadaan itu anda tidak lagi muslim.
Sepenggal cerita…..

Suatu ketika semasa kami (penulis) masih berstatus mahasiswa di salah satu Ma’had Bahasa Arab, kami bertemu dengan salah seorang teman yang telah menyelesaikan kuliahnya di sebuah universitas yang terkenal sebagai pengusung ide liberalisme. Berikut petikan pembicaraan kami dengannya dan kami potong sampai pada pembahasan ttg demokrasi:
………..

Penulis: saudara, anda tadi mengatakan Islam dan Demokrasi itu tidak ada perbedaan alias sama saja, apa yang mendasari pendapat anda demikian?
Teman: yah, saya mengatakan demikian karena saya melihat antara keduanya sama-sama menginkan kebaikan, keduanya menerima aspek musyawarah, mengakui adanya persamaan hak, dll.

Penulis: Kalau begitu, saya kurang sependapat dengan anda. Pertama, keinginan untuk hal yang baik dalam demokrasi itu adalah hal yang absurd, tidak jelas, kebaikan menurut siapa? Baik menurut orang papua adalah berpakaian koteka, orang barat, telanjang dijalan adalah bukan keburukan tapi bagi orang jawa, Makassar, bugis, apakah itu baik? Belum tentu! Sedangkan kebaikan dalam islam telah jelas di definisikan bahwa kebaikan dan keburukan itu harus ditentukan oleh Allah. Bukankah dalam al-Qur’an dan Sunnah selain muka dan telapak tangan itu tidak boleh diperlihatkan dan itulah kebaikan dalam berpakaian. Bukan koteka, baju bodoh, apalagi telanjang. Kedua, musyawarah dalam demokrasi adalah suara terbanyak dan tidak mempertimbangkan aspek benar dan tidaknya pendapat. Kalau suara terbanyaknya salah maka itulah yang benar alias menang, contoh: miras/khaomer sekrang boleh di minum, ada yang boleh di mana-mana, ada yang boleh hanya sekian radius dari tempat sholat, tapi intinya boleh. Sedangkan dalam islam musyawarah memang sangat dianjurkan tapi dengan tegas memperhatikan perkara yang dimusyawarahkan, kalau status hukumnya telah jelas maka tdk perlu lagi dimusyawarahkan. Contoh: haramnya miras, zina, riba dll tidak lagi membutuhkan pendapat apakah boleh atau tidak? Karena telah jelas larangannya. Yang dimusywarahkan di sini dalam aspek yang sifatnya ada pilihan. Contoh, pada saat perang badar, rasulullah memilih suatu tempat untuk beristirahat. Salah seorang sahabat bertanya, “yah Rasulullah, apakah ini wahyu sehingga kita harus berhenti di tempat ini?” “Bukan”, jawab baginda. “Kalau begitu kita beristirahat di daerah yang dekat dengan mata air agar menutup akses kafir quraisy ketika mereka memerlukan air”. Rasulullah kemudian memerintahkan untuk berpindah tempat. Nah, contoh di atas menunjukkan bahwa pilihan beristirahat di dua tempat berbeda adalah boleh namun diperlukan pendapat dari orang yang ahli dalam bidangnya. Demokrasi juga secara asas berbeda dengan islam. Demokrasi aturan buatan manusia dan Islam aturan buatan Pencipta yakni Allah. Pertanyaan saya, apakah anda masih melihat demokrasi dengan islam sama?

Teman: itu seh anda terlalu fundamentalis, ekstrem, tidak mengikuti perkembangan zaman dan tidak realistis. Sekarang kan kita sudah bukan jaman nabi lagi. Sekarang apalagi demokrasi menjadi aturan Negara kita.

Penulis: wah…apa itu tidak berlebihan? Ckckc..gini aja deh, kayaknya anda ini tidak bisa berdebat dengan menggunakan dalil qur’an dan sunnah. Anda tadi kan mengatakan demokrasi dengan islam adalah sama saja, Betul?

Teman: betul sekali, anda setuju gak?

Penulis: Tunggu dulu. Baik, kalau begitu, pertanyaan saya, apakah anda keberatan kalau saya mengatakan bahwa tinggalkan saja demokrasimu itu dan pilih sajalah Islam atau apakah anda setuju kalau islam menjadi aturan menggantikan demokrasi, kan sama saja. Gmn?

Teman: wah…tidak boleh begitu dong…

Penulis: lho kok, knp? Bukankah anda tadi mengatakan sama saja. Anda mau naik motor atau unta dari Bandung ke Jakarta kan sama aja. Sama- sama kendaraan, keduanya bisa sampai ke Jakarta. Seharusnya tidak ada keberetan kalau salah satunya dipilih, toh sama saja bukan? Tapi kalau anda menolak Islam untuk diterapkan, wah, jangan-jangan memang demokrasi dengan islam bertentangan neh…hehehe…

Diskusi kami dengan teman tadi berakhir dengan sikapnya yang salah tingkah, nggak bisa ngejawab lagi.

Kesimpulan.
Demokrasi dengan Islam adalah bertentangan secara ushul (pokok/ dasar) dan furu’ (cabang). Sehingga, adalah kewajiban bagi ummat islam untuk meninggalkan aturan manusia apapun bentuknya (termasuk demokrasi) dan MEMILIH islam sebagai satu-satunya aturan hidup, pribadi, keluarga, masyarakat dan Negara.
Wallahu’alam bi as showwab.

3 comments:

  1. Islam adalah product Allah SWT.
    Sedangkan demokrasi adalah product manusia.
    Jadi, jelas berbeda dong...!!!
    Dan demokrasi tidak sama dengan musyawarah,
    sehigga tidak logis jika ayat-ayat Al-Qur'an
    dijadikan referensi untuk membenarkan
    demokrasi ajaran Islam.

    wAllahu a'lam Bish-Showwab...

    ReplyDelete
  2. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
  3. @anonymous:
    trimakasih jika melampirkan nama dan email asli..
    biar lebih gentl.. ok?

    ReplyDelete