.

..

Monday, April 27, 2009

FENOMENAL 21 APRIL

Sejarah panjang telah menjadikan kita pada sebuah titik nol perjuangan yang kita mulai. Tepatnya tanggal 21 april ini
kita memperingati hari kartini yang masih dalam fenomena klinik. Yang telah di salah artikan oleh kita semua. Kartini adalah kambing hitam dari sebuah sejarah.
Fenomena sejarah yang telah di ubah oleh kaum barat untuk menjadikan kita menjadi bodoh !!! dan terbodohi sepanjang sejarah perjuangan kepahlawanan perempuan di bangsa ini. Mengapa kita selalu mengaungkan kartini sebagai sosok fenomenal memperjuangkan hak perempuan sama tanpa membedakan dalam meraih ilmu , dll. Kita tahu sosok cut nyak dien muslimah yang memperjuangkan syariat islam. Ia mempunyai visi dan misi keislaman yang jelas dan tegas bahwa perempuan harus tetap menjadi perempuan dan bukan pesaing laki-laki. Perubahan yang ia perjuangkan adalah perempuan harus mendapat pendidikan dan perlakukan sebaik-baiknya terutama dalam masalah akhlak, budi pekerti dan ibadah. Dan semua itu bisa dicapai hanya dengan ilmu pengetahuan saja.

Banyak yang menilai fenomena dari kartini adalah fenomena jawa minded dalam negri Indonesia ini sangatlah kental. Orang mungkin percaya ada nuansa Jawa minded dan meminggirkan suku-suku lain dalam negeri tercinta ini. Tapi sesungguhnya, yang lebih kental terasa adalah nuansa meminggirkan dan mengecilkan peran Islam dalam membentuk sebuah peradaban. Ketika KH. Ahmad Dahlan mendirikan sekolah Muhammadiyah di tahun 1908, beberapa tahun lebih dulu daripada sekolah Taman Siswa, namun mengapa Ki Hajar Dewantoro yang jadi pahlawan pendidikan? Ketika Sarekat Islam sebagai organisasi nasional pertama yang berusaha bersatu dan bangkit melawan penjajah, namun mengapa Budi Utomo yang jelas-jelas anggotanya harus dari suku Jawa malah dianggap sebagai pelopor kebangkitan nasional? Sudah saatnya bangsa ini meluruskan kembali sejarah nasionalnya. Bukan zamannya lagi meminggirkan peran Islam bahkan membungkam aktivisnya dengan dalih apa pun. Cut Nyak dien telah menunjukkan kiprahnya tentang hak dan kewajiban berdasarkan Islam

Meskipun mereka bukan perempuan Jawa, so what? Toh Kartini juga tidak pernah meminta dilahirkan sebagai perempuan Jawa yang terkungkung dan terbelakang. Yang ia inginkan hanyalah hak perempuan untuk dihormati secara layak dan mendapat pendidikan sebaik-baiknya. Jadi tidak perlu mendramatisir kehidupan Kartini apalagi menungganginya atas nama kebebasan perempuan yang kebablasan. Biarkan sejarah berbicara apa adanya dengan bukti-bukti otentik yang kuat, bukan diada-adakan untuk kepentingan pihak tertentu saja. Kasihan kartini. Alm yang sudah tiada. Andai ia sudah mengenal Islam saat itu sebagai sebuah sistem kehidupan dan bukan hanya kitab suci yang tak diketahui maknanya, maka sudah tentu surat-surat semacam curhat dan keluhan Kartini itu tak akan muncul. Kartini akan menjadi setangguh Cut Nyak Dien. Laki-laki di sekelilingnya sudah barang tentu akan memberikan pendidikan layak padanya karena hal itu adalah kewajiban bagi perempuan juga. Sistem yang ada (Islam) juga tak akan menistakan perempuan sehingga tak perlu lagi ada yang dituntut oleh Kartini. Bukan hanya kiprah cut nyak dien yang bisa di tauladani perempuan di Indonesia. Sosok Siti Khatidjah & kiprah sang pembela islam fatimah ( putri rosul). Sosok siti Khatidjah sepanjang sejarah telah menjadi historistis dikalangan muslimah. Sosok istri yang menjadi tauladan muslimah sedunia. Begitu juga dengan sosok fatimah. Biarlah Kartini tenang di alam sana. Tidak perlu mendompleng namanya atau menunggangi perjuangannya demi perempuan Jawa yang saat itu derajatnya dianggap lebih rendah daripada laki-laki. Satu poin penting yang kita telah tahu bahwa ada penyelewengan sejarah tentang kiprah perempuan Indonesia. Dan yang lebih parah lagi, penyembunyian wajah Islam sebenarnya sebagai sebuah sistem hidup. Padahal, Islam mampu menuntaskan semua permasalahan termasuk masalah perempuan.

Sudah saatnya kita bergerak menyadarkan masyarakat tentang hal ini. Ternyata hanya dengan Islam saja perempuan menjadi mulia tanpa harus menghiba dan menuntut pada laki-laki. Begitu juga laki-laki menjadi mulia dengan memuliakan perempuan sesuai dengan koridor Islam. Keduanya akan menjadi kekuatan yang bersinergi untuk membangun sebuah peradaban yang benar dan baik. Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang kepada (agama)-Nya, niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dari-Nya (surga) dan limpahan karunia-Nya. Dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus (untuk sampai) kepada-Nya. (Qs.An Nisaa' : 175

::>Sigit (BEM) AUB Surakarta

0 comments:

Post a Comment