.

..

Sunday, March 1, 2009

Meluruskan Opini Yang Keliru

Erwin Permana (Sekjen GEMA Pembebasan): Rabu lalu (18/02), GEMA Pembebasan melakukan aksi menolak kehadiran Hillary Clinton di depan Istana Negara Jakarta. Aksi ini mendapat liputan dari berbagai media nasional maupun lokal, salah satunya harian Kompas. Atas liputannya kami ucapkan terima kasih. Tetapi, dari pemberitaan yang dimunculkan pada Kamis (19/02), ada mismatch antara realitas yang terjadi dilapangan dengan
yang diopinikan kepublik. Meskipun ada beberapa opini yang sesuai tetapi ada opini lain yang tidak ada realitasnya dilapangan, bahkan cenderung negatif.

Dalam pemberitaan disebutkan bahwa beberapa demonstarn sempat melempari poster Hillary dengan sepatu dan meneriakkan “no Hillary”, hal ini kami tidak menolak. Karena begitulah kejadiannya. Dan memang sudah direncanakan akan ada aksi teatrikal seperti itu. Hillary Clinton datang ke Indonesia tidak membawa misi lain kecuali misi hegemoni Amerika atas negeri ini--sebagaimana yang kami nyatakan dalam press release--. Sedangkan sepatu adalah sesuatu yang menghinakan. Perlakuan terbaik untuk penjajah yang akan menghegemoni adalah memberikan penghinaan, jika tidak memiliki kemampuan untuk memerangi. Bukan malah menyambut dengan permadani merah, seperti yang dilakukan penguasa negeri ini.

Kami juga tidak menolak jika diopinikan bahwa kami menyatakan “AS adalah teroris yang sesungguhnya”. Sebab, sebutan apa lagi yang layak diberikan pada Negara yang sudah membunuh ribuan orang di Irak dan Afganistan, juga mendukung penuh serangan keji Yahudi atas Palestina yang menelan korban ribuan orang? Karenanya Amerika adalah teroris. Tetapi pada bagian lain diberitakan bahwa “meski aksi demonstrasi ini hanya diperkuat oleh puluhan orang, kehadiran pengunjuk rasa ini memicu kemacetan, polisi yang mencoba menertibkan pengunjuk rasa agar tidak terlalu merengsek ke badan jalan justru memicu saling dorong”. Opini ini bertentangan dengan realitas yang terjadi. Sebab setiap kami mengadakan aksi GEMA memiliki korlap yang berfungsi menertibkan barisan dan memastikan aksi berjalan tertib. Lebih dari itu yang tergabung di GEMA Pembebasan adalah orang-orang yang sudah dibina dengan pemahaman aqidah Islam, yang mebuat mereka sadar bahwa tindak anarkis adalah suatu bentuk dosa. Sehingga tiap kali GEMA mengadakan aksi selalu berlangsung damai dan aksi berjalan tertib. Satu hal yang sudah diketahui oleh polisi. sehingga pada aksi rabu kemarin sebagaimana biasanya, polisi hanya berdiri menjaga santai. Kami yang kebetulan hadir membacakan press release, sempat berbincang-bincang cukup hangat dengan polisi disela-sela wawancara dengan rekan wartawan. Jadi kami menolak jika diopinikan ada kejadian saling dorong dan menimbulkan kemacetan. Hal tersebut bertentangan dengan mainstream perjuangan GEMA Pembebasan.






1 comments:

  1. emang... media massa emang sering bikin salah, bisa gawat kalo ga dikonfirmasi tuh.. huu.. cmangat!!!

    ReplyDelete