.

..

Sunday, November 9, 2008

Sekaratnya Sistem Kapitalis, Saatnya Sistem Islam yang Memimpin

Krisis keuangan 2008 di Amerika bukanlah sesuatu yang mengagetkan. Para ahli ekonomi banyak yang telah meramalkan hal ini akan terjadi tahun lalu. Pada bulan April tahun 2007 ekonom dari Econit, Hendri Saparini telah memprediksi krisis akan terjadi kembali. Begitupun Sri Mulyani, tahun lalu dia memberi peringatan kepada
pemerintah tentang kemungkinan terjadinya krisis ekonomi jilid 2. Krisis global saat ini di mulai dari berbagai rentetan peristiwa awal tahun 2000. Kasus colapsnya Enron, perusahaan besar bidang energi Amerika mungkin bisa dijadikan contoh ketidak beresan dalam perekonomian.
Setelah kejadian itu, kita menyaksikan adanya peristiwa WTC yang mana merupakan konspirasi keji pemerintah Amerika sebagai alasan penyerangan terhadap negeri-negeri kaum muslim (Afganistan dan Irak). Kebijakan perang ini memiliki setidaknya ada 3 motif ekonomis yang diharap, yaitu perusahaan-perusahaan Amerika mendapat sumber ladang minyak baru, proyek pembangunan infrastrukrur yang dihancurkan, serta jualan senjata kenegara-negara lain. Kebijakan untuk terjun dalam perang juga merupakan solusi terhadap krisis ekonomi 1929. Pada tahun ini kondisi perekonomian Amerika sangat jatuh sehingga dinamakan Great Depresssion yang menjadi kisah pembuka dalam literatur mata kuliah Makro Ekonomi di perguruan tinggi.
Kenapa solusinya perang? Untuk menjawabnya, maka terlebih dahulu kita harus memahami penyebab krisis dan bagaimana kebijakan moneter terhadap kondisi tersebut. Penyebab utama krisis keuangan yang terjadi berulang-ulang kali ini adalah besarnya perbedaan antara ekonomi sektor real dengan sektor non-real. Yang dimaksud ekonomi sektor riil di sini adalah ekonomi yang menyangkut barang (memang terjadi pindah tangan barang/jasa dengan uang), sedangkan ekonomi non riil adalah ekonomi nonbarang (riba, jual beli surat berharga –saham, surat hutang, surat dagang untuk komoditi seperti minyak, hasil pertanian, mata uang-, asuransi, dan lain-lain). Transaksi real, saat ini memang cenderung terus meningkat jauh melampaui uang yang beredar di sektor produksi. Perbandingan saat ini antara sektor real dengan sektor non real adalah 1:80. Inilah yang disebut oleh Paul Krugman (1999) sebagai ekonomi balon (bubble economy).
Kebijakan perang dilakukan supaya ada peningkatan yang signifikan terhadap sektor real, yang tentunya akan membuat ketimpangan semakin kecil. Disamping itu, dengan perang berarti terbukanya banyak lapangan kerja yang tentunya dapat mengatasi pengangguran. Disamping itu perang yang dilakukan juga akan membawa keuntungan, karena dalam politik internasional yang kalah dalam perang akan membiayai seluruh biaya perang yang telah dikeluarkan. Disamping itu, adanya ghanimah (harta rampasan perang) seperti sumber kekayaan alam ataupun barang-barang arkeologi/ budaya. Karena itulah, pada tahun 1929, Amerika melibatkan diri dalam perang dunia ke-2. Padahal pada tahun sebelumnya, pemerintah Amerika mengisolir negaranya dari konflik dunia, karena memang pada dasarnya dia tidak memiliki kepentingan terhadap pihak yang bertikai.
Peledakan gedung WTC-pun disinyalir adalah rekayasa pemerintah Amerika sebagai alasan untuk mengkampanyekan perang terhadap terorism (baca Islam). Terorisme yang dimaksud Amerika memang berada pada daerah-daerah yang sangat kaya dengan sumber daya alam. Dan itu dilakukan untuk menggenjot kegiatan ekonomi sektor real negara Amerika.
Disamping adanya kebijakan perang ini, salah satu instrument moneter yang dilakukan adalah menurunkan suku bunga FED (BI nya Amerika). Tingkat suku bunga (nama lain riba) diturunkan dengan maksud untuk mendorong adanya kegiatan investasi. Dengan turunnya persentase riba ini, maka orang akan lebih memilih untuk berinvestasi ketimbang menyimpannya di bank dalam rangka untuk mendapatkan keuntungan yang lebih. Dengan terciptanya psikologi yang demikian, banyak dari warga amerika yang ingin membeli tempat tinggal lewat kredit (KPR) dengan riba yang rendah. Parahnya, karena para pelaku dan system ekonomi yang diterapkan kapitalis, maka surat hutang tadipun diperdagangkan sehingga memperbesar gelembung ekonomi sektor non real.
Harapan tinggal harapan, Amerika kalah dalam perang. Mujahid-mujahid di Irak dan Afganistan tidak mudah dilumpuhkan. Bahkan Saddam Husein pun, yang merupakan penggerak partai Ba’aths Irak yang berhaluan sosialis-komunis sempat-sempatnya membaca Al Qur’an (ditandai dengan ditemukanya Al Qur’an yang terbuka di tempat persembunyiannya) -semoga ini menjadi motivasinya melawan Amerika. Amerika berkali-kali meminta tambahan dana untuk pembiayaan perang Irak ke DPR-nya. Dan kondisi ini tentunya menguras keuangan negara Amerika.
Pada akhirnya, tentunya menyebabkan Amerika membutuhkan uang yang banyak. Untuk menarik dari dana masyarakat, maka digunakanlah instrument ekonomi riba tadi. FED menaikkan suku bunga, dengan itu orang akan terpengaruh untuk menyimpan uang di bank dan uang tersebut dapat digunakan untuk pendanaan. Naiknya suku bunga tentunya menimbulkan gejolak terhadap pelunasan kredit KPR. Bunga KPR menjadi tinggi, dan timbullah kredit macet. Pada April 2007, sebanyak 147.708 nasabah yang dinyatakan tidak mampu melunasi hutang. Kondisi ini dinyatakan meningkat dua kali lipat pada Agustus 2007 sebesar 239.851 nasabah. Sedangkat untuk Agustus tahun 2008, dinyatakan 303.879 nasabah yang tidak mampu melunasi hutang.
Dengan kondisi tersebut, tentunya orang yang memberi hutang (Bank) tentunya kewalahan, makanya pada Juli 2007 Bear Stearns dinyatakan bangkrut. Kemudian menyusul Morgan Stanley pada November 2007, dan pada 15 September 2008 Lehman Broters Holdings Inc dinyatakan bangkrut. Padahal bank-bank tersebut adalah bank besar dan sudah lama berdiri. Sedangkan bank-bank global dinyatakan merugi senilai 55 miliar dolar AS. Banyak bank terkena dampak karena memang disebabkan maraknya jual beli surat hutang KPR antar bank. Dalam kapitalis, semua hal dapat di jadikan komoditi perdagangan walaupun pada hakekatnya tidak ada barang/ jasa yang sebenarnya di perdagangkan.
Dengan kondisi ini, Bush bahkan menyatakan bahwa seluruh perekonomian Amerika sedang dalam bahaya, dalam situasi yang tidak normal, perekonomian yang tidak berjalan sebagaimana mestinya, sampai mengatakan bahwa jika kongres tidak segera bertindak, Amerika akan mengalami kepanikan finansial. Jika AS mengalami resesi, resikonya adalah akan banyak perusahaan-perusahaan yang tutup, bertambahnya jumlah pengangguran, kerugian di bursa saham, kegagalan bisnis dan sulitnya mendapatkan pinjaman. “Dan pada akhirnya, negara kita akan mengalami resesi panjang dan menyakitkan. Saudara-saudaraku sebangsa, kita tidak boleh membiarkan ini terjadi,” kata Bush menghiba.

Lonceng Kematian Sistem Kapitalis, Islam Solusi Paripurna
Lonceng kematian Sistem Kapitalis memang sudah nyaring terdengar. Pada awal 1990, didengung-dengungkan bahwa sistem sosialis-komunis telah tumbang dan yang hanya mampu bertahan hanyalah sistem kapitalis. Padahal sistem ini baru bertahan seabad, dan sudah tampak tanda-tanda kematianya. Pemenang hadiah Nobel bidang ekonomi Joseph Stiglitz bahkan menyatakan kepada Washington Post (Jum’at 10/10) tentang kematian model kapitalis ini sebagai tanggapannya terhadap krisis perekonomian global ini.
Sistem kapitalis dibangun dalam kerangka sekularisme yang mencampakkan pengaturan agama dalam kehidupan memang masih menjadi sistem dunia saat ini, baik di wilayah mayoritas penduduk muslim ataupun non muslim, -tak terkecuali di Indonesia. Implikasi dari pencampakan agama ini, masyarakat AS mengalami kerusakan pranata sosial yang akut. Tingginya tingkat kriminalitas, stress, pornografi, aborsi dan pelacuran menjadi sesuatu yang tidak terpisahkan dari negara kapitalis ini. Menurut studi yang dilakukan oleh National Victim center pada tahun 1992, 1,3 wanita yang berumur 18 tahun keatas di USA diperkosa dengan paksa setiap menit; 78 wanita per jam; 1.871 wanita per hari, atau 683,000 korban per tahun. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS memperkirakan, jumlah pengidap virus tersebut mencapai 1,1 juta orang. Jika kita melihat jurang besar antara miskin dan kaya, tentu akan menimbulkan implikasi terhadap tingginya tingkat kriminalitas. Oleh karena itu tampak wajar jika dalam sistem ini profesi yang paling laku di jual adalah pengacara, dokter dan konsultan psikologis.
Ada dua sudut pandang dalam penyelesaian masalah, yaitu cara pandang pragmatis dan revolusioner. Ibarat cara penanggulangan orang yang sedang sakaw, apakah kita hanya akan menghilangkan sakaw tersebut atau menghilangkan ketergantungan narkobanya. Jika hanya untuk menghilangan sakau, maka cara cepat dan jitu adalah dengan memberikan asupan narkoba. Inilah cara pandang pragmatis, yang hanya menyelesaikan satu-satu bagian permasalahan tanpa melihat kepada inti permasalahan yang sebenarnya. Jika di tempuh dengan jalan revolusioner, maka akan ada penelitian dan menghilangkan penyebab rasa sakaw tersebut, yaitu menghilangkan ketergantungan akan narkoba.
Inti dari timbulnya krisis ekonomi adalah sektor non real yang menjadi pondasi perekonomian sistem kapitalis. Diperbolehkannya kegiatan ini karena sekularisme yang menjadikan landasan berfikir para pelaku kegiatan pada sektor ini. Untuk itu, jika kita menginginkan adanya solusi yang paripurna, maka solusi jitu adalah dengan menjadikan Islam sebagai kepemimpinan berfikir yang sudah seharusnya menjadi corak setiap interaksi apapun di dunia ini.
Islam secara jelas telah mengharamkan riba, baik yang sedikit ataupun berlipat ganda. Islam juga telah menyatakan bahwa segala bentuk transaksi perdagangan harus dijauhkan dari unsur-unsur spekulatif, gharar, majhul, dharar, mengandung penipuan, dan yang sejenisnya. Unsur-unsur tersebut diatas, sebagian besarnya tergolong aktifitas-aktifitas non real. Sebagian lainnya mengandung ketidakjelasan pemilikan. Sisanya mengandung kemungkinan munculnya perselisihan. Islam telah meletakkan transaksi antar dua pihak sebagai sesuatu yang menguntungkan keduanya; memperoleh manfaat yang real dengan memberikan kompensasi yang juga bersifat real. Transaksinya bersifat jelas, transparan, dan bermanfaat. Karena itu, dalam transaksi perdagangan dan keuangan, apapun bentuknya, aspek-aspek non real dicela dan dicampakkan. Sedangkan sektor real memperoleh dorongan, perlindungan, dan pujian.
Diterapkan solusi paripurna ini memang tidak bisa hanya dilakukan oleh individu, namun harus ada negara yang mengembannya. Disamping penerapan Islam secara totalitas adalah kewajiban setiap individu muslim untuk mengusahakannya. Telah jelas kerusakan dilangit dan di bumi ini akibat tingkah polah manusia yang tidak mau tunduk terhadap hukum Allah. Apakah kita masih sombong dengan mencampakkan aturan Allah? Atau tunduk dan patuh terhadap segala ketentuan-Nya? Itu semua adalah pilihan yang nanti setiap manusia akan sama-sama dimintai pertanggungjawabannya. Wallahu ‘alam.

0 comments:

Post a Comment