.

..

Wednesday, September 10, 2008

Ramadhan, Input, proses dan Output

hanif:Sebentar lagi, Kita akan berjumpa kembali dengan bulan yang dipenuhi berkah oleh the Al Mighty –Allah SWT-. Ramadhan bukanlah bulan hal yang baru bagi kita semua. Kita sudah mengalami bulan ini berkali-kali. Jika dilihat dari banyaknya pengalaman itu, sudah sepantasnya frens semua untuk mendapatkan gelar Taqwa yang merupakan output dari bulan Ramahan, output yang telah digariskan oleh Sang Pencipta.


Marilah kita menengok perusahaan yang merupakan salah satu gambaran dari sebuah system. Pada perusahaan, kita akan menjumpai 3 tahapan besar yaitu: input, process dan output. Untuk tahapan awal, yaitu input, akan menentukan bagaimana tahapan berikutnya. Begitu juga selanjutnya. Setiap tahapan akan memberi kontribusi dan saling terkait dengan hasil yang akan diperoleh pada tahapan akhir.

Sebagai contoh, mari kita bernostalgia sejenak dengan ‘tarian bumi’ yang cukup mengguncangkan kota Padang sejak 3 tahun yang lalu. Hal tersebut sangat menggemparkan dan sekaligus membuat suasana mencekam selama berbulan-bulan, dikarenakan ketakutan pada gelombang air yang kemungkinan akan menenggelamkan Padang kota tercinta. Seperti apa yang telah menimpa saudara-saudara kita di Aceh.

Seperti yang kita ketahui, hampir seluruh infrastruktur pemerintahan dan domisili warga kota Padang terletak di dekat pantai. Gempa yang terjadi tersebut cukup, lebih dari 7 SR yang berpusat di laut dekat Mentawai. Kekuatan gempa itu hanyalah satu point lebih dibawah gempa yang terjadi di Aceh, setelah itu disusul oleh ratusan atau mungkin juga ribuan gempa yang kekuatannya lebih kecil. (Pada ingatkan???, of course ya, itu kan unforgetable moment).

Setelah itu, marilah kita melihat gempa Jogja. Gempa yang terjadi di Jogja, yang tiba-tiba dan meluluhlantakan kota tersebut dan ribuan yang meninggal (innalillahi wa inna ilaihi roji’un).

Ok frens, kali ini lets compare 2 gempa –di Padang dan Jogja-. Mari kita anggap gempa merupakan suatu proses yg menghancurkan, jadi semakin besar gempanya maka akan semakin menghancurkan. Jika kita melihat hanya dari segi proses saja, maka otomatis pikiran kita menganggap gempa di Jogja bukan apa-apa. Cuma 5.9 SR, g’ berpotensi tsunami dan ga’ bakalan menghancurkan. Tapi kok yang terjadi sebaliknya ya ??? Klo dilihat dari prosesnya, secara rasional yang di Padang jauh lebih berbahaya. Tapi yang di Padang cuma beberapa rumah yang retak-retak, wong rumahku yang hanya 500 meter di tepi pantai fine-fine aja kok. Kerugian yang dialami rumahku cuma sebotol sirup yang pecah karena di’goyang paksa’ oleh bumi. ..etc...

Apa yang terjadi sebenarnya???, to find what happen-nya, kita mesti menganalisis lebih dulu. Data yang kita gunakan harus lebih luas dengan maqlumat sabiqoh (informasi sebelumnya) yang lebih banyak. G’ hanya pada satu paradigma bahwa semakin besar SR gempa akan semakin menghancurkan. Gempa adalah proses dan to wanna know kenapa outputnya beda dengan paradigma awal, kita mesti tahu input yang diproses kayak mana. Dengan kata lain kita mesti tahu bagaimana kondisi sesuatu -dalam contoh ini Padang dan Jogja, pada tahapan terdahulu.

Well frens, untuk memperkecil ruang lingkup, mari kita anggap input-nya adalah bangunan. Apa beda bangunan yang di Padang dengan di Jogja?

Seperti yang sudah diketahui oleh banyak orang, komposisi bangunan adalah semen, pasir, besi,bata. Mungkin dari segi pasir dan bata bisa kita singkirkan (soalnya kayaknya g’ ada beda). Namun dari segi semen dan besi kita bisa membandingkannya disini. Sumatera adalah wilayah yang rawan gempa, makanya pembangunan di wilayah ini (including Padang) mereka menggunakan struktur bangunan yang kokoh untuk menghadapi goyangan bumi. Makanya, kata seorang instruktur bangunan sebuah pelatihan Depnaker, biaya membangun bangunan di Padang bisa 3 kali lebih besar dengan bangunan serupa di pulau Jawa (Kenapa? Apa karena semennya yang lebih mahal??) Klo dari segi semen, itu ada bedanya. Klo padang pake Semen Padang (SP), sedangkan di Jawa pake Semen Gresik (SG). Sebenarnya g’ bisa juga kita bilang output dari SP lebih baik dari pada SG (ada yg tahu???), dan kali ini Aq g’ bakalan ngebahas tentang kualitas semen, entar dibilang iklan.

Tapi perlu frens semua pada tahu bahwa input SP, yaitu bukit kapurnya merupakan kualitas nomor 1 dan pasokannya masih banyak alias belum banyak dieksplorasi. Sedangkan kapur2 yang di Jawa rata2 berkualitas rendah dibandingkan SP. Disana banyak juga sih kapur, namun kebanyakan dijadikan cat dan untuk kapur tulis. Bukan untuk semen, dan kapur yg dirubah menjadi semen adalah kualitas yang sesuai standard perhitungan cost mereka. Kualitas jelekpun masih bisa dijadikan semen sih, layaknya karet. Klo mo ngolah karet yang kualitas jelek memerlukan proses dan bahan2 tambahan yang banyak. Karena itulah perusahaan pengolah getah karet membeli yang berkualitas jelek dengan harga rendah.

Karena melihat kualitas SP tadi, Cemex -pemilik mayoritas saham pabrik semen di Indonesia-, berjuang (baca:menekan) pemerintah Indonesia untuk menjadikan SP sebagai anak perusahaan SG. Padahal sebelumya g’ ada hubungan SP dengan SG. Perjuangan Cemex tidaklah sia-sia, pemerintahpun menggabungkan kedua perusahaan ini dan sebagai kompensasinya Cemex membeli saham SG sekaligus mendapatkan seluruh anak perusahaan SG (persemenan di Indonesia). Makanya klo menurut orang Akuntansi, apaan spin off SP?? G’ perlu dan buang-buang tenaga, soalnya pada hakikatnya SP adalah punya SG. Dan akhirnya memang, g’ mungkinkan pemerintah memenangkan aspirasi orang daerah menuntut agar SP g’ dikuasai Cemex. G’ mungkin kan pemerintah membela rakyat kecil, (pls deh, dalam sistem sekarang ini, yang mana cuma bisa sebagai penjual asset2 kepada pihak asing ketimbang mengelola sendiri??? Klo dianalogikan kayak PT Dirgantara Indonesia (PT DI) yang barusan ditetapkan sebagai pailit, entar PT DI tersebut menjual asset2 mereka untuk membayar kreditor dan setelah terjual semua asset, tamat deh riwayat hidupnya dipercaturan industri berat dunia. Jadilah Indonesia menjadi negara objek pemasaran produk asing).

Back to gempa, untuk daerah yang tidak rawan gempa, komposisi semennya memang sedikit dibandingkan di Padang. Klo disana, semen berfungsi hanya sebagai perekat pasir, bukan memperkuat. Makanya g’ kokoh. Disamping itu, besi yang digunakan disana tidaklah sebanyak yang di Padang, bahkan ada yg g’ pake besi. Dan jumlah semen dan besi yang dipakai inilah penyebab mahalnya biaya bangunan di Padang dan di Jawa.
Disamping aspek diatas, masalah atap bisa dijadikan pertimbangan kenapa Jogja lebih hancur dibanding Padang. Kenapa?? Karena most of the roof adalah genting yang disusun sebagai atap. Jadi akan lebih riskan persatuannya dibanding seng atau asbes.

Mungkin masih banyak lagi perbedaan input bangunan di Padang dan di Jogja. Dan seperti yg telah dipaparkan di atas, hal tersebut membuat output (hasil) dari proses gempa berbeda.

Begitu juga dengan Ramadhan. Dalam surat al Baqarah 183, ’Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”, output yang diharapkan dari bulan adalah Bertaqwa –menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangannya-. Dan kategori taqwa g’hanya sholat dan saum-nya udah g’bolong-bolong lagi, namun melaksanakan konsekuensi dari keimanan kita.

Mengakui Allah itu adalah Pencipta dan Islam sebagai agama tidaklah cukup namun ada konsekuensi akan pengakuan itu yaitu sami’na wa atho’na (saya dengar dan saya ta’at) atas perintah dan larangan Allah. Untuk tahu perintah dan larangan Allah inilah makanya mempelajari agama Islam adalah fardhu ’ain (kewajiban individu, layaknya sholat), bukan fardhu kifayah (kewajiban kolektif, con: penyelenggaraan jenazah).

Jadi untuk memperoleh output bulan Ramadhan, kita g’ hanya ngelakuin ibadah2 ritual yang memang juga dianjurkan. Namun disini untuk memperoleh hasil yang diharapkan,dengan kapasitas kita (input) yang pas2an memahamami Islam secara sempurna, otomatis proses yang harus kita lakukan haruslah lebih besar. Dan memahami Islam sebenarnya g’ hanya dibulan Ramadhan. Bulan Ramadhan adalah bulan proses yang mana Allah menjanjikan sampai 700X lipat jika kita melakukan pada bulan lain. Tawaran yang menggiurkan bukan? Mana ada perusahaan memberikan reward sebanyak itu, palingan dg 10 % dari profit aja orang udah sangat senang, apalagi 700X lipat. Dasyat bo’.

Islam pada kenyataanya mengatur setiap aktivitas kita dimuka bumi ini. Kita aja yang belum menyadari aturan tersebut karena ketidak pahaman kita terhadap agama sendiri. Malukan, udah brapa kali Ramadhan kita lewat...Ini mah sama halnya kita SPMB. Berulang-ulang kali dan g’jebol-jebol juga. Kenapa?, selain memang udah qadhanya Allah bisa juga salah satunya bisa jadi karena persiapan emang kurang. So, marilah kita berlomba-lomba mendapatkan output Taqwa dengan mencari tahu (mempelajari) agama kita.
May God helps us to be like a new born baby, innocent. ?


2 comments: