.

..

Thursday, June 12, 2008

Ada Apa Dengan Tragedy Monas??

Masih sangat segar diingatan kita kasus kelompok aliran sesat al Qiyadah al Islamiyah yang mengakui Mushadeq adalah nabi setelah nabi Muhammad SAW. Bagaimana FPI bersama saudara-saudara dari kelompok Islam lain berjuang mengadakan unjuk rasa agar pemerintah republik Indonesia bertindak tegas terhadap ajaran sesat yang dibawa Mushadeq. Alhamdulillah, aksi FPI dkk berhasil dan pemerintah kelihatan sangat cekatan dan tegas dalam pembubaran ajaran al Qiyadah ini.



Penyelesaian terhadap al Qiyadah Islamiyah ini memberi harapan bagi umat Islam bahwa rupanya pemerintah Indonesia masih memiliki itikad baik dalam penjagaan aqidah umat. Harapan ini memberi angin segar baru agar pemerintah juga segera menyelesaikan kesesatan Ahmadiyah yang telah berurat berakar. Namun penyelesaian terhadap Ahmadiyah tidaklah seperti yang diharapkan oleh umat Islam. Ahmadiyah merupakan sebuah aliran sesat Islam memiliki motif kesesatan yang hampir sama dengan yang dibawa Mushadeq, yaitu mengakui adanya nabi setelah nabi Muhammad SAW. Bedanya, aliran yg dibawa Mushadeq memiliki jaringan lokal sedangkan Ahmadiyah memiliki jaringan internasional. Walaupun SKB (Surat Kesepakatan Bersama) 3 menteri yang menyatakan kesesatan Ahmadiyah telah lama disepakati, namun namun baru Senin (9/6 ‘08) diterbitkan. Konon kabarnya pemerintah SBY masih enggan untuk menanda tanganinya setelah mendapatkan peringatan dari Kanada dan Australia.


Kelambanan dan ketidaktegasan pemerintah ini rupanya mengakibatkan sebuah pertikaian yang berkelanjutan. Muslim yang sadar dengan keislamannya -tidak hanya memandang islam sebagai identitas di KTP, layak merasa gerah dengan Ahmadiyah dan sikap pemerintah. Apalagi muslim yang sadar itu juga terlibat aktif dan pejuang dalam memperjuangkan penerapan Islam secara menyeluruh. Tentu muslim pejuang ini akan merasakan lebih gerah dibandingkan dengan muslim yang hanya sadar. Ini sama saja halnya jika kita membandingkan antara pemain dan penonton sepak bola. Pemain akan merasakan emosi yang lebih dibandingkan penonton, yang hanya bisa menjadi penggembira dan komentator.


Cacian yang datang terhadap Islam tentunya akan lebih dirasakan menyakitkan oleh pejuang Islam. Penonton arena perjuangan Islam melawan kebathilan banyak memandang polah sikap yang diperankan beberapa anggota FPI yang bergabung dengan KLI (Komando Laskar Islam) pada peristiwa Monas tanggal 1 Juni lalu sebagai sesuatu hal yang memalukan dan memberikan citra buruk terhadap Islam. Apalagi dengan ketidakadilan media dalam memberi informasi yang memojokkan FPI. Media cenderung hanya memperlihatkan kekerasan tanpa memberi kesempatan bagi kenapa hal tersebut terjadi. Padahal informasi yang baik itu haruslah memberikan 5W+1H (where, what, when, who, why and how). Dalam seminggu setelah kejadian, informasi yang beredar cenderung hanya memberi porsi besar terhadap how, bagaimana peristiwa yang terjadi.


Kekerasan, apapun bentuknya, jika hanya dipertontonkan tanpa tahu sebab musabab kenapa kekerasan itu terjadi, akan memberikan kesimpulan yang sama yaitu merupakan sesuatu yang tidak baik. Dalam tragedy Monas yang terjadi pada tanggal 1 Juni lalu, ada beberapa fakta yang kita temukan. Fakta pertama, adanya kekerasan yang terjadi yang dilakukan sekelompok masa yang diduga dari FPI. Namun menurut pengakuan Munarman S.H, mereka disana bukan atas nama FPI namun KLI yang memang beberapa anggotanya berasal dari FPI. Jadi dalam kejadian ini, FPI tidaklah bisa dipersalahkan. Karena pada faktanya FPI secara institusi ikut aksi Tolak Kenaikan Harga BBM yang menzalimin rakyat Indonesia bersama ormas lainnya. Lalu kenapa FPI yang dipojokkan???


Fakta kedua, seperti yang dilansir dalam siaran TV mengenai kegiatan AKK-BB ini sebelumnya tidak diperkenankan oleh Kepolisian terkait untuk melakukan aksi di wilayah Monas, karena akan berbenturan dengan pihak yang tidak mendukung acara mereka. Dengan kata lain, kegiatan AKK-BB (Aliansi Kebangsaan unuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan) ini telah memiliki gambaran tentang adanya aksi dari umat Islam.


Ketiga, adanya pihak AKK-BB yang membawa senjata api. Fakta ini membuktikan kepada kita bahwa sebenarnya AKK-BB telah menyiapkan diri untuk menghadapi kekerasan. Jika memang sebagai aksi damai, tentunya tidak perlu untuk membawa senjata api. Namun keyataan senjata api itu dibawa dan sempat-sempatnya ditembakkkan, berlagak seperti polisi.


Keempat, adanya provokasi verbal yang dilakukan oleh AKK-BB, seperti perkataan “Dasar binatang-binatang. Islam anjing, orang Islam anjing,” oleh Saidiman, aktivis Komunitas Utan Kayu. Sebelumnya, pada saat orasi AKK-BB meneriakkan bahwa “Laskar Islam adalah Laskar Setan dan Laskar Kafir”. Muslim mana yang tetap nyaman dengan cacian seperti ini. Apakah ada hati seorang muslim yang tidak terluka? Apalagi kita mengetahui bahwa yang mendengar cacian AKK-BB bukanlah muslim yang menjadi penonton dalam perjuangan kemullian Islam. Anggota KLI adalah muslim yang ikut andil dalam perjuangan pembubaran al Qiyadah dan Ahmadiyah!!! Kita bisa membayangkan bagaimana psikologi mereka pada saat itu, ditambah pemerintah waktu itu masih urung untuk membubarkan Ahmadiyah, ataupun melarang pihak Ahmadiyah melabelkan diri mereka dengan Islam.


Fakta yang kelima, seperti yang diungkap Habib Rizieq bahwa ada seorang anggota AKK-BB, Asep, yang sungkem ke markas FPI Jalan Petamburan, Jakarta. Asep mengatakan bahwa dia tak tau apa-apa,diajak demo, dan dibayar Rp. 25 ribu (www.hidayatullah.com). Terang saja bahwa aksi yang dilakukan AKK-BB bukanlah 100% murni atas kesadaran anggota yang hadir disana. Aksi mereka ternodai dengan bayaran tersebut, dan patut di pertanyakan, siapa yang memodali pembagian uang ini? Siapa dibalik aksi tersebut. Motor yang digunakan oleh AKK-BB berlabelkan ICIP (International Centre for Islam and Pluralism). Dalam situs resmi Ford Foundation (www.fordfound.org), ICIP adalah LSM yang mendapat dana $1 juta atau sekitar Rp 9,2 milyar ($1 = Rp9200) untuk masa kerja 2006-2010 dengan program pendidikan sekuler terhadap orang-orang Islam di komunitas miskin. Jadi memang ada indikasi bahwa mereka ada dengan bantuan financial dari asing yang notabene pembawa sesuatu yang bukan Islam.


Fakta yang terakhir, pada saat itu, minggu 1 Juni 2008, ada aksi Umat Menolak Kenaikan harga BBM yang sangat besar di Jakarta. Aksi ini juga terjadi di kota-kota lain di seluruh Indonesia dan berlangsung damai. Namun isu kenaikan BBM ini dianulir oleh tragedy Monas. Padahal dengan menaikkan harga BBM, berarti pemerintah betul-betul telah melakukan kezaliman yang luar biasa. Sebenarnya masih banyak cara untuk menanggulangi permasalahan ini. Apalagi hitung-hitungan Kwik Kian Gie menyatakan bahwa sesungguhnya pemerintah telah diuntungkan dengan tingkat harga penjualan yang lalu sebesar Rp 165,8 triliun. Sedangkan pemerintah, sampai saat ini belumlah dengan transparan menampilkan kenapa hitung-hitungan mereka bisa rugi.


Dari fakta-fakta di atas, kita bisa mengambil beberapa kesimpulan. Pertama, kesalahan tidak seutuhnya pada pihak KLI karena jelas-jelas ada provokasi yang disengaja oleh AKK-BB. Kenapa pihak AKK-BB tidak ada yang diusut? Atau Saidiman yang telah mengatai orang Islam dengan lafadz anjing tidak di usut. Kenapa yang diusut hanyalah yang berasal dari FPI? Kedua, pemerintah selayaknya bersifat tegas dengan sebuah acuan yang shohih. Kejadian monas lalu juga dipicu oleh ketidaktegasan pemerintah dalam menyikapi penanganan terhadap kelompok sesat.

0 comments:

Post a Comment