.

..

Wednesday, March 5, 2008

Antara Sosiologi, Ekonomi Kapitalis, Matematik dan Kesejahteraan


Don’t be terrorized by numbers, “The fact is that, despite its mathematical base, statistics is as much an art as it is a science,” (Darrell Huff, How to Lie with Statistics).

Sebuah pendapat dalam ilmu sosiologi menyatakan bahwa kelompok miskin haruslah ada ditengah-tengah komunitas masyarakat. Banyak para economist yang juga berpendapat seperti itu. Sampai-sampai menyatakan jangan mudah tertipu dengan slogan-slogan atau janji-janji kampanye tentang penghapusan kemiskinan. Penghapusan kemiskinan adalah sebuah utopia yang selalu terpelihara dari masa-kemasa. Dimanapun, dikolong langit tempat beragam kehidupan, kita akan tetap menemukan yang namanya kemiskinan. Tidak terkecuali di US, badai Katrina dan mortgage supreme plant (kredit macet perumahan) menguak fakta kondisi permasalahan kemiskinan yang terjadi. Bahkan kondisi di UKpun tidak jauh berbeda. Dalam sebuah buku Introduction to The System of Islam yang merupakan terbitan dari Al Khilafah Publications London UK, dalam Bab tentang Sistem Ekonomi memberikan gambaran bagaimana banyak keluarga-keluarga di UK yang kesulitan untuk memenuhi kebutuhan pokok perumahan.
US dan UK dapat disebut 2 negara yang dapat dikelompokkan sebagai subjek Kapitalis (pelaku kapitalis) untuk dunia ini. Sebagai subjek tentunya perekonomian disana sangatlah lebih maju dibanding negara-negara lain, apalagi jika dibandingkan dengan Indonesia yang merupakan negara objek terjadinya capitalism.
Negara Subjek Kapitalis adalah negara pemilik modal yang dengan modal tersebut mereka (lewat perusahaan-perusahaan multinasional) mengeruk kekayaan di negara-negara objek kapitalis (negara-negara berkembang) lewat kata indah bernama investasi (penanaman modal), kemudian memboyong kekayaan dari negara objek kapitalis ke negara-negara asal mereka. Untuk menjadi negara subjek kapitalis membutuhkan dana yang cukup besar, dan butuh usaha yang luar biasa keras bagi sebuah objek menjadi subjek. Apalagi dengan system pendidikan yang mengembor-gemborkan peningkatan perekonomian sebuah negara dapat terjadi dengan masuknya investasi asing (masuknya dolar ke dalam negeri).
Sebagai negara objek kapitalis yang baik, maka negara tersebut akan berlomba-lomba untuk mempermudah investasi di wilayah mereka. Mulai dari memfasilitasi keberadaan pekerja murah dengan deregulasi peraturan ketenaga kerjaan, melonggarkan aturan kepemilikan asset, sampai dengan pengurangan pajak bahkan penghapusan atas profit yang diperoleh.
Negara Objek kapitalis berusaha untuk menjadikan wilayahnya sebagai sorga bagi subjek kapitalis. Apa yang diharapkan dari pemfasilitasan investor ini? Tidak lain adalah untuk menciptakan sesuatu yang bernama tumbuh (grow up) dalam perekonomian. Suatu hal yang tak terbantahkan akan terjadi peningkatan sebagai akibat terjadinya aktivitas ekonomi (produk/jasa), baik itu dilakukan swasta (asing/dalam negeri) maupun dilakukan oleh BUMN. Namun untuk memahami hakekat tumbuh ini, kita tidak bisa hanya melihat dari hitung-hitungan makro. Namun kita perlu memperhatikan apa yang terjadi pada kondisi real di lapangan.
Jika kita berbicara tentang kemiskinan, maka penyebab utama dari permasalahan ini adalah berpusat pada distribusi kekayaan. Marilah kita menengok kondisi pada novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Disana penulis menceritakan bagaimana kayanya Belitong dengan keberadaan nikel disana. Namun sangat disayangkan, pada novel itu diceritakan bahwa yang terkena impact dari kekayaan Belitong hanya segelintir orang. Kasus serupa akan juga akan kita temui di Papua. Sebagai salah satu provinsi terkaya di Indonesia, masyarakat di sekitar tambang emas Freeport terkena imbas berkembangnya penyakit HIV/Aids, kontribusi dari bisnis prostitusi yang berkembang seiring dengan keberadaan tambang tersebut. Di bagian lain, masih akan kita temukan manusia-manusia dengan kain minim melapisi tubuh gelapnya. Ironis memang, tapi inilah yang terjadi.
Tumbuh merupakan sebuah peningkatan. Jika berbicara tentang pertumbuhan ekonomi sekarang ini, maka yang dijadikan tolak ukur hanya terfokus pada hitung-hitungan makro di atas kertas. Hasilnya, kita akan menemukan kenyataan bahwa pendapatan rata-rata Indonesia meningkat. Namun tidaklah cukup hanya berpatokan pada hitung-hitungan tersebut untuk menilai kesejahteraan suatu negara. Pendapatan rata-rata sebuah negara tidaklah menggambarkan keadaan real dari masyarakat. Ukuran ini didapatkan dari total pendapatan negara dibagi dengan jumlah penduduk suatu negara.
US sebagai negara Subjek Kapitalis juga menjadi korban dari sistem ekonominya sendiri. Separo dari kekayaan dan keuntungan dari sebanyak 200.420 unit perusahaan industri di Amerika telah dimiliki dan dikuasai oleh hanya 102 unit perusahaan industri raksasa saja (kekayaan rata-rata tiap perusahaan telah lebih dari satu milyar dollar US). Distribusi kemakmuran antar negara bagian juga tidak merata, negara federal sebelah Timur jauh lebih kaya dibandingkan dengan sebelah Barat dan Kepulauan. Perbedaan tingkat kemakmuran per kapita sekitar US $ 10.000,- per tahun (Zadjuli, 1998: 3).
Di Indonesia, indeks nilai tukar petani (NTP) 9 persen. Data ini dijadikan alasan BPS sebagai penyebab berkurangnya kemiskinan. Namun angka ini lebih menggambarkan pendapatan petani besar dan distributor produk pertanian, bukan buruh tani. Sementara itu, mayoritas penduduk miskin di Indonesia adalah mereka yang mengandalkan upah sebagai tenaga kerja kasar atau buruh tani. Hingga kini tidak ada indikator yang menunjukkan ada kenaikan dramatis upah tenaga kerja kasar atau buruh tani. Indikator yang ada, seperti meningkatnya jumlah pengangguran, belum bergeliatnya sektor riil, dan kian bertambahnya masa tunggu sebelum bekerja, menunjukkan kondisi sebaliknya: semakin berkurangnya harapan penduduk miskin untuk mendapatkan penghasilan tetap.
Mungkin tidak banyak yang mengetahui bagaimana islam mengatur menyangkut pengelolaan sumber daya alam. Islam dianggap seolah-olah hanya sebuah agama yang bersifat ritual, dan jika berhubungan dengan manusia lain dianggap hanya pada aspek moral dan etika.
Sesuatu yang belum familiar memang, tapi Islam punya aturan mengenai kepemilikan umum. Fasilitas umum adalah apa saja yang dianggap sebagai kepentingan manusia secara umum, dan haram dimiliki oleh individu. PLN, Bahan Tambang yang sangat bayak jumlahnya, air, telekomunikasi, jalan, merupakan fasilitas umum yang haram bagi individu untuk memilikinya. Fasilitas umum tersebut dikelola oleh negara dan hasilnya untuk kesejahteraan umat.
Berbeda dengan yang berlaku sekarang ini, fasilitas umum dapat dimiliki oleh pribadi, sehingga keuntungan dari fasilitas umum tersebut hanya terfokus untuk segelintir orang.
Sekarangpun, sesuatu yang dapat kita rasakan saat ini, pemerintah, baik pusat maupun daerah, berupaya untuk ‘mengundang’ para investor untuk berinvestasi di Indonesia. Mereka diharapkan mampu untuk mengeksploitasi potensi ‘nganggur’ yang sangat melimpah untuk segera menghasilkan dan meningkatkan kesejahteraan Indonesia. Dan dengan investasi tersebut, nantinya kita akan menikmati pemandangan bagus tentang peningkatan angka-angka. Namun hakikatnya, angka tersebut hanyalah milik segelintir orang. Apakah benar Indonesia menjadi sejahtera??

3 comments:

  1. (Dikutip dari: Harian RADAR Banjarmasin, Senin, 16 Juni 2008)

    Strategi Ilmu Sosial Milenium III
    (Kadaluarsa Ilmu: Re-Imagining Sociology)
    Oleh: Qinimain Zain

    FEELING IS BELIEVING. MULANYA teori baru diserang dikatakan tidak masuk akal. Kemudian teori tersebut itu diakui benar, tetapi dianggap remeh. Akhirnya, ketika teori itu sangat penting, para penentang akan segera mengklaim merekalah yang menemukannya (William James).

    KETIKA Dr Heidi Prozesky – sekretaris South African Sociological Association (SASA) meminta TOTAL QINIMAIN ZAIN (TQZ): The Strategic-Tactic-Technique Millennium III Conceptual Framework for Sustainable Superiority (2000) sebagai materi sesi Higher Education and Science Studies pada Konferensi SASA medio 2008 ini, saya tidak terkejut. Paradigma baru The (R)Evolution of Social Science – The New Paradigm Scientific System of Science ini, memang sudah tersebar pada ribuan ilmuwan pada banyak universitas besar di benua Amerika, Afrika, Asia, Eropa dan Australia. Pembicaraan dan pengakuan pentingnya penemuan juga hangat dan mengalir dari mana-mana.

    Contoh, dari sekian banyak masalah telah dipecahkan paradigma ini adalah menjawab debat sengit hingga kini keraguan ilmuwan sosial akan cabang sosiologi sebagai ilmu pengetahuan di berbagai belahan dunia. Tanggal 2-5 Desember 2008 nanti, akan digelar The Annual Conference of The Australian Sociological Association (TASA) 2008 di Australia, dengan tema Re-imagining Sociology. (Judul tema Re-Imagining Sociology, diambil dari judul yang sama buku Steve Fuller (2004), seorang profesor sosiologi dari Universitas Warwick, Inggris).

    Lalu, apa bukti (dan pemecahan re-imagining sociology dalam paradigma TQZ) masalah sosiologi sampai ilmuwan sosial sendiri meragukannya?

    PARADIGMA (ilmu) sosial masih dalam tahap pre-paradigmatik, sebab pengetahuan mengenai manusia tidaklah semudah dalam ilmu alam (Thomas S. Kuhn).

    Ada cara sederhana untuk menjadi ilmuwan menemukan (masalah) penemuan (dan memecahkannya) di bidang apa pun, yaitu meneliti seluruh informasi yang ada di bidang itu sebelumnya dari lama hingga terbaru. (Sebuah cara yang mudah tetapi sangat susah bagi mereka yang tidak berminat atau malas). Mengenai informasi dari buku, menurut Isadore Gilbert Mudge, dari penggunaan buku dibagi dua, yaitu buku dimaksudkan untuk dibaca seluruhnya guna keterangan, dan buku yang dimaksudkan untuk ditengok atau dirujuk guna suatu butir keterangan pasti. Keduanya punya kelebihan masing-masing. Yang pertama luas menyeluruh, yang kedua dalam terbatas hal tertentu.

    Berkaitan menonjolkan kelebihan pertama, Dadang Supardan (2008: 3-4), menyusun buku Pengantar Ilmu Sosial (Sebuah Kajian Pendekatan Struktural), cetakan pertama, Januari 2008, yang mendapat inspirasi pemikiran ilmuwan sosial Jerome S. Bruner, bahwa mata pelajaran apa pun lebih mudah diajarkan (dan dipahami) secara efektif bila struktur (fakta, konsep, generalisasi, dan teori) disiplin ilmu seluruhnya dipelajari lebih dahulu, yaitu lebih komprehensif, mudah mengingat, mengajarkan, dan mengembangkannya.

    KLAIM sah paling umum dan efektif mengajukan paradigma baru adalah memecahkan masalah yang menyebabkan paradigma lama mengalami krisis (Thomas S. Kuhn).

    Lalu, apa hubungannya buku pengangan universitas yang baik ini dengan debat keraguan sosiologi?

    Dadang Supardan (2008:98), mengutip David Popenoe, menjelaskan jika ilmu sosiologi ingin tetap merupakan sebuah ilmu pengetahuan maka harus merupakan suatu ilmu pengetahuan yang jelas nyata (obvious). Dadang mengungkap, ahli sosiologi sering menyatakan bahwa mereka banyak menghabiskan uang untuk menemukan apa yang sebenarnya hampir semua orang telah mengetahuinya. Sosiologi dihadapkan dengan dunia masyarakat yang sebenarnya tidak begitu aneh, di mana orang-orang yang secara umum sudah akrab ataupun mengenal konsep-konsep yang diperkenalkan dalam bidang sosiologi. Sebaliknya, sebagai pembanding, dalam pokok kajian pada kelompok ilmu kealaman adalah sering berada di luar dunia dari pengalaman sehari-hari. Dalam menjawab permasalahan ilmu pengetahuan alam, temuan kajiannya memberikan ungkapan dalam bahasa dan simbol-simbol di mana kebanyakan orang hampir tidak memahaminya atau benar-benar dibawa dalam pengenalan konsep yang benar-benar baru.

    Lalu, inikah bukti kekurangan sosiologi sebagai ilmu pengetahuan? Ya (salah satunya).

    Sebenarnya sangat jelas lagi, masalah sosiologi ini sudah diungkap Dadang Supardan (2008: 4) sendiri di awal dengan mengutip Bruner pula. Menurut Bruner, terdapat tiga tahapan berpikir seorang pembelajar, yaitu enactive, iconic dan symbolic. Enactive terfokus pada ingatan, lalu iconic pola pikir tidak terbatas pada ruang dan waktu, tetapi seluruh informasi tertangkap karena adanya stimulan, kemudian tingkat symbolic, dapat dianalogikan masa operasi formal menurut Piaget. Dalam tahapan terakhir, siswa (dan siapapun – QZ) sudah mampu berpikir abstrak secara keilmuan pada tingkat yang dapat diandalkan, mengingat sudah mampu berpikir analisis, sintesis dan evaluatif.

    MENOLAK satu paradigma tanpa sekaligus menggantikannya dengan yang lain adalah menolak ilmu pengetahuan itu sendiri (Thomas S. Kuhn).

    Artinya, sosiologi yang dipelajari di sekolah dan universitas tanpa perangkat simbolik selama ini kadaluarsa dan hanya dapat disebut pengetahuan saja. Dan, untuk membuktikan kekurangan sosiologi tak perlu jauh-jauh (meski boleh agar nampak jelas) dengan ilmu kealaman, cukup dengan ilmu pengetahuan mantap masih golongan (ilmu) pengetahuan sosial juga yaitu ilmu ekonomi. Bukankah ilmu ekonomi dianggap ilmu (ratunya golongan ini) karena mencapai tingkat analogi simbolik bahasa ekonomi? (Karena itulah definisi ilmu pengetahuan dalam paradigma baru TQZ bukan kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur (sistematis), tetapi kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur (sistematis), membentuk kaitan terpadu dari kode (symbolic), satuan ukuran, struktur, teori dan hukum yang rasional untuk tujuan tertentu. Untuk ilmu pengetahuan sosial paradigma milenium ketiga telah saya tetapkan International Code of Nomenclature TQO Employee fungsinya Operation dengan kode O, TQC Supervisor (Control-C), TQS Manager (Service – S), TQI Senior Manager (Information – I) dan Director (Touch – T)).

    Jadi, para ilmuwan sosial, sebenarnya sudah tahu sosiologi yang dipegang selama ini tidak layak disebut sebagai ilmu pengetahuan, meski belum tahu pemecahannya. Lantas, apa pentingnya solusi re-imagining sociology sekarang? Sangat pasti, salah satu cara memahami masyarakat untuk mengatasi krisis dunia (negara, bangsa, daerah, organisasi, usaha dan pribadi) yang semakin kompleks dan buntu selama ini. Dan, bagi lembaga penelitian dan pendidikan baik organisasi dan pribadi harus proaktif berbenah. Adalah fatal dan picik mengajarkan (ilmu) pengetahuan yang (kalau) sudah diketahui kadaluarsa dan salah, di berbagai universitas dan sekolah. Dunia (di berbagai belahan) sudah berubah.

    KALAU teori saya terbukti benar, Jerman akan mengakui saya sebagai seorang Jerman dan Prancis menyatakan saya sebagai warga negara dunia. Tetapi kalau salah, Prancis akan menyebut saya seorang Jerman, dan Jerman menyatakan saya seorang Yahudi (Albert Einstein).

    BAGAIMANA strategi Anda?

    *) Qinimain Zain – Scientist & Strategist, tinggal di Banjarbaru – Kalsel, e-mail: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com)

    ReplyDelete
  2. wacana ilmu tampa pijakan visi idiologis memang terkesan memusingkan, bahkan ga ada titik akhir. apalagi fakta yang diungkapkan nihil samasekali.
    g'mana menurut teman-teman yg lain?

    ReplyDelete
  3. :)) Km aja yg g' ngeh sama ilmu tersebut.
    Ilmu itu ada banyak macm nya?
    Klo ilmu alam, such as Fisika (ini ilmu TOP, asik banget) g'perlu visi ideologis. just see, understand, we will find that God is really really Coool

    ReplyDelete