.

..

Wednesday, February 20, 2008

Kebebasan yang Tak Membebaskan


Hingga kini banyak diantara kita yang beranggapan bahwa zaman kini adalah zaman kebebasan termasuk diantaranya kebebasan berpendapat, tak ayal kemudian banyak diantara kita lantas setuju dengan ide demokrasi lalu berbondong-bondong ikut menyuarakannya bahkan ada diantaranya siap mati demi membela eksistensinya, hingga seakan bagi mereka yang tidak ikut berpartisipasi didalamnya dianggap tak berfikiran maju, berfikiran kaku, kolot, rigid, konservatif dan lain sebagainya, terlepas dari anggapan tersebut, rasanya tak salah memang jika dikatakan sejak masa reformasi hingga saat ini, terus diupayakan pengembalian hak-hak kebebasan berbicara dan berpendapat yang selama ini (baca: masa orde baru) mengalami kemandegan dimana hal itu kemudian dianggap sebagai pengejawantahan dari proses ‘pemurnian’ demokratisasi yang ada.

Benarkah demikian, jika diteliti dan sedikit diamati, kebebasan yang mereka usung itu pada sisi lain justru kontradiksi dengan realita yang ada, dimana justru dengan jargon itu membuat mata hati dan fikiran mereka tertutup –bahkan mungkin termasuk diantaranya kita-, mengapa? Sebuah contoh gamblang menunjukkan bahwa sudah menjadi rahasia umum di masyarakat, mengisahkan bagaimana seorang da’i atau khatib seringkali diingatkan oleh ta’mir masjid untuk tidak menyinggung-nyinggung soal politik dalam ceramah dan khutbahnya.

Contoh sederhana ini cukup membuat kita bertanya, dimana letak hak kebebasan yang selama ini didengungkan dan dielukan itu? Apakah pada persoalan ini tidak ada ruang untuk kebebasan berpendapat dan mengapa kebanyakan kita luput dari hal-hal kecil seperti ini tapi sebenarnya mengandung sesuatu yang prinsip?

Tentu kita prihatin dan aneh dengan kondisi demikian, umat Islam yang sejatinya memiliki sejarah panjang dan pengalaman mengenai aktivitas politik dan implementasinya secara langsung, kini seakan takut berbicara soal ini bahkan alergi dengan politik itu sendiri, sungguh ironis.

Banyak faktor yang menyebabkan hal ini terjadi, mengapa muncul pembatasan yang seperti itu, begitupula mengapa sang penceramah ‘manut’ saja dengan pembatasan itu, diantara faktor yang dominan -baik eksternal maupun internal- menurut penulis adalah belum sampainya pengetahuan atau pemahaman yang baik dan benar tentang ide Islam yang sesungguhnya terutama yang menyangkut soal siyasah (baca: politik), disusul dengan kuatnya doktrinasi dan pemahaman dikotomis antara Islam dan politik atau antara Islam politik dan Islam spiritual (doktrin sekular), demikian juga berkurangnya ketajaman dan kejernihan berfikir umat akibat polarisasi pandangan politik yang pragmatis dan opurtunis yang sedang menggejala saat ini dan sejumlah faktor-faktor turunan lainnya. Termasuk diantaranya adalah masih kuatnya sekat-sekat status kepartaian (beda partai).

Sehingga tak mengherankan ketika ia mendengar kata politik hal yang terlintas di benak kepalanya adalah seputar bagaimana cara merebut kekuasaan, menjaga dan melestarikan kekuasaan serta bagaimana mengulingkan kekuasaan yang ada, dengan kata lain saat bicara politik kekuasaan menjadi kata pemutusnya (baca: tujuan akhir) padahal politik dalam perspektif Islam tak sebatas dan sesempit itu, celakanya pengertian ini lalu digeneralisir pada semua faham dan partai politik yang ada termasuk kepada partai politik Islam, tanpa melalui penelusuran dan pengkajian memadai, lalu lahirlah slogan “Islam Yes, Partai Islam No” dan mengatakan “semua faham politik itu sama pada intinya yang beda cuma penampakannya, partai A boleh saja berlabel Islam tapi intinya sama-sama juga, ujung-ujungnya uang dan kekuasaan” dan sejumlah komentar miring lainnya.

Tanpa sadar masuklah ia dalam perangkap pola fikir filsafat-pragmatis, celakanya lagi lalu ia menutup diri dari khittah Islam yang sebenarnya yang memiliki ajaran multikehidupan dan pengalaman politik cukup panjang, yang dihadirkan Allah dan Rasul-Nya untuk diamalkan dan diterapkan, akhirnya ia pun terbawa arus opini yang menyilaukan dimana ia sendiri tidak sadar dari mana asal opini itu datang, untuk apa dan mengapa…keadaan umat yang seperti ini (apatis) menjadikannya mudah sekali terombang-ambing oleh arus kepentingan pihak asing, musuh dan orang-orang yang didalam jiwanya terdapat penyakit.

Banyak peristiwa yang menunjukkan hal itu dimana opini media masa sangat berpengaruh, seringkali mempengaruhi arah kebijakan public dimana sesuatu yang awalnya tabu dan dianggap menyimpang kemudian direkayasa menjadi boleh dan wajar dilakukan dan orang yang melakukan kesalahan dianggap biasa sementara yang mengemukakan kebenaran malah dicuaikan bak pahlawan kesiangan dan lain sebagainya, diperparah dengan tidak adanya standar hukum yang jelas serta mengikat untuk dijadikan rujukan secara yuridis, terkesan tambal sulam hukum dinegeri ini dan celakanya sang penegak hukum sendiri tak malu melakukan praktek mafia peradilan. Lengkaplah sudah kelemahan hukum dan peradilan dinegeri kita ini.

Hal itu menambah buruknya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap hukum dan pemerintahan yang kemudian menimbulkan sikap ketidakpedulian masyarakat pada agenda dan proses pembangunan yang tengah digalakkan, bangsa ini sudah kenyang dengan slogan dan moto kebebasan yang diusung atas nama demokratisasi namun belum mampu membebaskan dirinya dari keterpurukan.

Walau sebagian kalangan merasa puas dengan kebebasan selama ini namun dengan menilai kembali perjalanan yang sudah kita lalui, diperkuat dengan melihat data dan angka-angka indikasi kesejahteraan masyarakat tampaknya jauh panggang daripada api.

Untuk itulah diperlukan pemahaman bahwa esensi mendasar dari sebuah kebebasan adalah membebaskan manusia dari ketergantungan, penindasan dan penghambaannya pada manusia atau makhluk lain selain Tuhan penguasa alam.

Dalam segi keilmuan, pemikiran dan jargon politik pun lebih sering kaum muslimin terima dari khazanah diluar Islam, dimana diantaranya sarat dengan pemikiran Barat yang kemudian masuk di alam fikir kaum muslim, merasuki benak jiwa dan mendominasi perasaannya lalu mewarnai sikap dan perilakunya, dan pada akhirnya mendukung setiap agenda yang datang dari Barat..terutama AS, Inggris dan sekutunya, apa buktinya? kita bisa lihat belakangan betapa media massa negeri ini membagi porsi pemberitaan yang berlebihan terhadap proses pilpres AS ketimbang persoalan Ahmadiyah yang terkatung-katung itu, padahal hal itu bertaut langsung pada persoalan fundament umat yakni Aqidah.

Di sinilah perlunya kecermatan seorang muslim lebih-lebih mahasiswa muslim dalam melihat situasi dan kondisi politik yang sedang terjadi dan peka terhadap isu-isu politik yang sedang menghangat, satu-satunya jalan untuk mengawali seseorang agar bisa memupuk kesadaran dan kepekaan dirinya sekaligus dapat keluar dari kondisi keterpurukan dengan jalan yang benar sesuai dengan pemahaman agama dan keyakinannya adalah dengan mengikuti pembinaan intensif ke-Islaman dan menghadiri forum-forum diskusi yang terarah, dinamis namun juga ideologis yang mencerahkan sekaligus solutif yang berefek langsung pada peneguhan hati dan perjuangan untuk menggapainya.

Dengan inilah manusia khususnya seorang muslim menemukan arti kebebasan sebenarnya yakni yang membebaskan dirinya dari jeratan penghambaan selain tuhan Rabbul ’alamin, Allah SWT.

Inilah yang sedang terjadi, kalau tidak kita mulai dari sekarang, bukan tak mungkin umat Islam kedepan akan terus seperti ini, menjadi penonton dan tamu di negerinya sendiri…bahkan akan semakin terpuruk ditengah belenggu kebebasan yang semu dan tidak membebaskan.
Bangun dan Bangkitlah pemuda Islam!
Hadanallahu wa iyyakum ajmain.


Wallahu a’lam.
KREASI Bekasi Generation
Nur Dwi A

0 comments:

Post a Comment