.

..

Monday, December 10, 2007

Akankah Indonesia Menjadi Negara Pengimpor Sampah ?


Tanggal 3 hingga 14 Desember 2007 Indonesia menjadi tuan rumah konferensi tingkat tinggi (KTT) internasional tentang perubahan iklim bertempat di Bali yang diadakan oleh United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC). KTT tersebut mengangkat agenda penyelamatan dunia dari bahaya .... perubahan iklim (climate change) akibat pemanasan global (global warming). Selain itu sangat penting untuk melakukan evaluasi terhadap Protokol Kyoto yang dibuat tahun 1997, yang merupakan kesepakatan negara-negara untuk pengurangan kadar CO2 guna mencegah pemanasan global

Negara maju dalam Konferensi Kyoto telah ’menghina’ negara kepulauan dengan pernyataan, ”Merelokasi penduduk kepulauan kecil lebih murah daripada membayar biaya pengurangan emisi.” (Godrej, 2001; Walhi 2007). Pada Maret 2001 AS mengundurkan diri dari negosiasi Protokol Kyoto, lantas beberapa bulan kemudian Australia juga mundur. Kesombongan mereka tetap kukuh hingga sekarang. Mereka enggan bertanggung jawab. Menjelang konferensi PBB tentang Perubahan Iklim di Bali, presiden Bush kembali menegaskan penolakannya atas Protokol Kyoto tentang pembatasan internasional atas tingkat pencemaran.

Fakta Perubahan Iklim
Cuaca adalah fenomena yang dapat bervariasi dari hari ke hari. Sedang tren jangka panjang disebut iklim. Ketika tren ini berubah maka kita bicara tentang perubahan iklim. Pada skala global, ini disebut Global Climate Change. Sejak era industri, orang mencatat perubahan iklim ini. Efek ini diduga akibat meningkatnya karbon dioksida (CO2) di atmosfir sebagai dampak pembakaran hidrokarbon baik bahan bakar fossil, hutan maupun sampah, sehingga sinar inframerah dari matahari lebih banyak terperangkap di atmosfir. Karena efek semacam ini mirip yang dirasakan di rumah-rumah kaca, maka disebut Efek Rumah Kaca (Greenhouse effect) dan CO2 disebut juga ”gas rumah kaca” (Greenhouse-Gas/GHG). Dan karena efeknya memanaskan secara global, maka disebut ”global warming”. Karena memerlukan riset jangka panjang seperti ini, maka sebagian orang masih berbeda pendapat tentang dimensi efek global warming. Ada yang menganggap efek ini akan dinetralisir oleh peningkatan reaktivitas lautan secara alami.

Sejak masa pencatatan temperatur secara ilmiah dan teratur selama 100 tahun terakhir, tercatat suhu bumi naik 0,75° C. Yang mencolok, setelah 1950, tren kenaikan suhu terlihat cukup konsisten dengan sekitar 0,25° C per dekade untuk daratan dan 0,13° C per dekade untuk lautan.

Dampak yang akan dirasakan adalah mencairnya es di kutub; kenaikan air laut yang menyebabkan dataran rendah akan tenggelam; perubahan sirkulasi plankton dan otomatis perubahan sebaran ikan yang pada akhirnya pada persediaan sumber pangan dari laut; perubahan vegetasi yang mana daerah beriklim sedang akan menjadi lebih hangat sehingga dapat menanam tanaman tropis, sementara itu daerah yang sekarang sudah hangat seperti di Indonesia, dapat berubah menjadi gurun; perubahan pola penyakit, akibat beberapa virus atau bakteria yang dulu hanya ada di daerah tropis (seperti malaria, DBD dan sejenisnya) akan melanda daerah beriklim sedang; dan lain sebagainya.

Sumber Gas Rumah Kaca
Hingga negara besar yaitu China dan Amerika Serikat menolak meratifikasi protokol Kyoto, walau dengan alasan yang berbeda. China berposisi bahwa aktivitas ekonominya masih jauh di bawah negara-negara industri maju. Pengurangan CO2 berarti menutup kesempatan rakyat China untuk menikmati standar hidup yang lebih baik. Sedang AS memang kurang berminat menurunkan tingkat penggunaan energi fosilnya, terutama di bidang transportasi. Namun isu yang saat ini beredar justru bahwa sumber gas rumah kaca ini dunia Islam akibat pertumbuhan penduduk yang tidak terkendali karena penolakan terhadap program Keluarga Berencana (KB).

Faktanya, selama ini AS adalah penghasil nomor 1 CO2, yaitu 39% dunia. Negara-negara G-8 (AS, Jepang, Jerman, Canada, Inggris, Perancis, Italia dan Rusia) total membuang CO2 68% dunia. Artinya, jumlah CO2 dari seluruh negara lainnya, termasuk Indonesia dan China kurang dari 32%.

Selama ini sektor yang paling banyak menghasilkan CO2 adalah energi (baik untuk industri maupun transportasi). AS menghembuskan hampir 6500 Mega Ton CO2-equivalen, di mana 95% dari sektor energi. Sebagai pembanding, Indonesia hanya menghembuskan kurang dari 400 Mega Ton CO2-equivalen, meski jumlah penduduk Indonesia sudah mendekati penduduk AS. Namun karena di Indonesia sering terjadi kebakaran hutan, baik disengaja atau tidak, Indonesia “menyumbang” CO2 sebanyak 3000 Mega Ton CO2-equivalen.

Buah Kapitalisme, Imperialism
Ada 3 system di dunia ini; yaitu kapitalis, sosialis-komunis dan Islam. Sejak tahun 1990 sampai saat ini, kapitalis berhasil menancapkan kukunya untuk menguasai dunia sendiri setelah berhasil menumbangkan sosialis-komunis. Sedangkan system Islam masih tertidur sejak tahun keruntuhan Daulah Khilafah Ustmany tahun 1924, menunggu untuk dibangunkan oleh para pejuangnya. Tanpa tandingan saat ini, kapitalis menjadi poros untuk setiap kebijakan, termasuk kebijakan ekonomi yang memiliki sifat imperialis (menjajah).

Selama ini sedikit yang menyadari kerusakan sistem ekonomi kapitalis. Padahal faktanya menurut Prof Daniel C Maguire (2000) dan David Korten (1995), dunia sedang dijajah oleh tirani korporasi. Setiap kebijakan dunia merupakan jalan bagi kepentingan para kapitalis. Pernyataan tersebut didukung oleh fakta yang diungkap UNDP bahwa terdapat 20 persen penduduk dunia menguasai 82,7 persen seluruh pendapatan dunia. Artinya, 80 persen penduduk dunia hanya membagi 17,3 pendapatan dunia. Negara yang memiliki Sumber Daya Alam melimpah seperti Indonesia menjadi negara miskin. Investasi swasta (baik asing maupun dalam negeri) kebanyakan adalah perampokan dari kepemilikan umum menjadi individu, di buka luas kerannya dengan dalih pembangunan. Padahal keuntungan yang didapat adalah upah murah dari kerusakan lingkungan yang ditimbulkan, sedangkan keuntungan yang sebenarnya diboyong ke pundi-pundi individu yang disebut investor tersebut. Kekacauan iklim yang sedang mengancam manusia merupakan akibat kesombongan kapitalisme global.

Sebagai contoh, kita dapat menengok pemberian HPH (Hak Pengelolaan Hutan) hanyalah menguntungkan segelintir orang, yaitu pemilik HPH tersebut. Penduduk sekitar hanya merasakan akibat dari eksploitasi tersebut, seperti banjir, longsor, kekeringan dan lain sebagainya. Begitupula yang terjadi di Papua, tempat berdirinya tambang Freeport. Warga disana `menikmati` air sungai yang penuh limbah, kerusakan hutan akibat tambang yang tentu merusak ekosistem hutan disana. Perkembangan kegiatan ekonomi masyarakat sekitar adalah larisnya aktifitas protistusi yang mengakibatkan terjadinya peningkatan penderita HIV/Aids disana.

Pada tahun 1990-an ekonom AS, mantan ekonom Bank Dunia, Lawrence Summers, mengatakan bahwa ide untuk membatasi pertumbuhan ekonomi dengan dalih keterbatasan alam adalah sebuah kesalahan besar. Namun, menurut Maguire, setiap gerak ekonomi di muka bumi ini, setiap hari membakar energi yang untuk menciptakannya bumi membutuhkan waktu 10 ribu hari.

Ekonom AS itu David Korten menyatakan bahwa bangsa-bangsa di muka bumi dijajah oleh keperkasaan korporasi. Sistem ekonomi kapitalis menjadi menjijikkan melihat kenyataan bahwa kapitalisme menganggap sebagai ’pihak luar’ terhadap apa yang dipandang tidak ekonomis, termasuk soal lingkungan hidup. Jiwa korporasi tidak dikendalikan oleh hati nurani, tapi hanya mempunyai dua nafsu: keuntungan dan pertumbuhan. Apa yang telah dilakukan globalisasi adalah menghasilkan ’bunyi penghisap yang keras’. Begitu kata Maguire meminjam Ross Perot.

Ketimpangan yang besar pada ekonomi dunia adalah akibat dari imperialisme korporasi sekaligus menampakkan watak dan gaya hidup konsumerisme kaum kaya dunia. Kekayaan dari Negara-negara berkembang mengalir deras ke negara-negara maju dengan aktivitas perusahaan-perusahaan multinasional yang merupakan milik segelintir manusia. Adanya aliran kekayaan tersebutlah yang menyejahterakan negara maju dan memiskinkan negara-negara berkembang. Oleh sebab itulah, Indonesia yang merupakan daerah yang sangat kaya sumber daya alamnya merupakan negara miskin. Ironis, sebagai negara produsen minyak, pemerintah menganggap masalah terhadap tingginya harga minyak dunia. Kenapa? Indonesia lewat Pertamina hanya memiliki 10% dari produksi minyak bumi di Indonesia. Selebihnya (90%) dimiliki oleh perusahaan swasta (baik asing maupun dalam negeri)!!!

Orientasi pada keuntungan dan pertumbuhan ekonomi inilah yang juga mendorong terdegradasinya 43 persennya lahan yang dapat ditumbuhi tanaman di muka bumi, disebabkan setiap hari bumi kehilangan 71 juta ton humus. Hampir 80 persen hutan Eropa telah rusak oleh hujan asam akibat industri. Sebanyak 20 persen penduduk terkaya di dunia dengan gaya konsumeris mereka bertanggung jawab terhadap lebih dari 60 persen hingga 80 persen emisi saat ini. Rata-rata emisi setiap satu orang AS sebanding dengan emisi 9 orang Cina, 18 orang India, atau 4 sampai 5 kali dari emisi rata-rata dunia. Setiap orang AS menggunakan energi 8 kali lebih tinggi dari bahan bakar fosil yang digunakan rata-rata penduduk di negara berkembang.

Penduduk AS hanya sekitar 4 persen dari penduduk dunia tetapi menyumbang emisi lebih besar dibandingkan 136 negara berkembang yang tergabung sebagai penyumbang 24 persen dari total emisi. Orang AS menggunakan pendapatan mereka per kapita 8 kali lebih besar dan melepaskan proporsi karbondioksida (CO2) lebih tinggi dibandingkan orang di negara lain (The Community Solution, 2006; Walhi, 2007). Artinya, bangsa-bangsa miskin di dunia yang terjajah secara ekonomi sedang dan akan terus menjadi korban gaya hidup bangsa-bangsa kaya.

Kebijakan Yang Harus Diambil
Negara-negara maju anggota UNFCCC pada awalnya punya komitmen untuk membantu secara finansial negara-negara berkembang dalam mengantisipasi dampak perubahan iklim ini. Untuk itu negara-negara berkembang diwajibkan untuk melakukan sejumlah hal seperti menjaga hutan-hutannya serta menyerahkan data Greenhouse gas-inventory.

Namun setelah sepuluh tahun Kyoto Protokol, negara-negara berkembang semakin sadar bahwa ada faktor-faktor institusional yang sangat sulit diatasi, yaitu: (1) negara-negara industri terdepan di dunia (dikenal dengan G-8) sudah berada pada “zona nyaman”, sehingga malas untuk berubah; (2) di dunia saat ini tidak ada skema ekonomi alternatif yang berskala global; dan (3) PBB ternyata tidak punya kapasitas politik yang cukup. Faktanya, politik PBB dan ekonomi dunia saat ini sangat ditentukan oleh politik dan aktivitas korporasi Amerika Serikat – yang menolak meratifikasi protokol Kyoto tadi.

Jika KTT tentang perubahan iklim di Bali hanya mewacanakan ’permintaan kepada negara-negara kaya’ agar membayar Indonesia dan negara berkembang yang menjadi paru-paru dunia, maka itu hanya gagasan ’dagang karbon’. Belum tentu uang sumbangan pengisapan emisi itu tak akan menjadi bahan korupsi. Gagasan tersebut hanya akan menjadikan Indonesia sebagai negara, tetap terjajah. Indonesia ibaratnya mengimpor sampah karbon yang merupakan emisi dari negara-negara maju.

Maka semakin jelas bahwa untuk menyelamatkan planet ini dari kehancuran ekologis, perlu paradigma dan sistem politik dan ekonomi global yang baru. Sistem politik dan ekonomi kapitalistis-sekuler terbukti gagal. Perlu ada sistem alternatif yang bersandar kepada Sang Pencipta Yang Maha Tahu. Allah berfirman:
Telah tampak kerusakan di darat dan di laut akibat perbuatan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (QS. 30: 41)

Sistem alternatif bagi dunia yang sekaligus adalah sistem satu-satunya bagi kaum muslimin itu adalah sistem pemerintahan Islam global (khilafah). Syariat Islam yang diterapkan secara menyeluruh oleh khilafah akan mengatasi masalah CO2 ini sejak dari akarnya. CO2 akan dikurangi dari sisi demand maupun supply.

Dari sisi demand: CO2 dihasilkan dari penggunaan energi konvensional (minyak, gas, batubara). Semakin materialis gaya hidup seseorang, makin banyak energi dihabiskannya dan semakin banyak pula CO2 akan dibuangnya. Dengan digantinya paradigma kebahagiaan dengan paradigma Islam, maka sekaligus dua masalah teratasi: kebutuhan energi dan CO2. Bentuk mengurangi demand ini bisa berupa penataan ruang baik makro maupun mikro yang lebih baik, sehingga mengurangi kebutuhan energi untuk transportasi, penerangan atau penyejuk udara. Secara teknologi, penggunaan teknologi informasi dan komunikasi (ICT) juga dapat menekan kebutuhan transportasi cukup signifikan, karena akan banyak hal dapat dilakukan secara jarak jauh (misalnya tele-conference, tele-working, dsb).

Sedang dari sisi supply, penggunaan energi terbarukan seperti energi surya dalam berbagai bentuknya (solar-cell, solar-farm, solar-tank), energi angin (wind-farm), energi air (dari mikrohidro sampai PLTA), energi ombak, energi suhu laut (Ocean-Thermal-Energi-Conversion, OTEC), pasang surut, panas bumi (geothermal) hingga energi nuklir dapat membantu menurunkan penggunaan energi konvensional, dan pada akhirnya mengantisipasi pemanasan global.

Di sisi lain, gerakan pelestarian hutan dan penanaman pohon harus digalakkan, baik secara individual, korporasi maupun negara. Dalam 12 tahun (1991-2003), Indonesia sudah kehilangan 68 juta hektar hutan, atau sekitar 10 hektar per menit! Bayangkan, hutan seluas 15x lapangan bola lenyap setiap menit! Di level bawah, para aktivis dakwah perlu mengingatkan ummat pada hadits Nabi yang berbunyi kira-kira, “Andaikan kiamat terjadi sore hari, di pagi hari seorang muslim tetap akan menanam sebuah pohon”, dan di hadits lain, “Andaikata buah pohon itu dinikmati oleh ulat atau burung, maka itu tetap terhitung sedekah dari yang menanamnya”.

3 comments:

  1. KOmentar orang yg posti menyakitkan hati. Ini tulisan telat bikinnya, makanya belum dikirim. Ini masih fresh, rencana kemaren mau masukan ke Padeks, tapi kemaren di Padeks udah ngebahas hal yang serupa. Makanya, sekarang mikir bagusnya kemana. Ini tulisan hasil kepala 3 orang, Aku (yg , pak Amhar, dan orang dari Walhi

    ReplyDelete
  2. astgfrlh, sorry.. udah diperbaiki..
    aktivkan lagi blognya..!!! pls.

    ReplyDelete
  3. Di ma'afkan, karena aku memang suka memberi ma'af, baik hati dan tidak sombong

    ReplyDelete