.

..

Wednesday, November 7, 2007

SERUAN UNTUK HAMAS DAN FATAH

Bukankah merupakan tindakan kriminal yang luar biasa besar, ketika Fatah yang telah menjadi tambatan harapan masyarakat untuk membebaskan Palestina secara menyeluruh, ternyata perannya hanya berhenti sebagai pemerintah di bawah pendudukan di Tepi Barat yang tidak memiliki daya, kekuatan, dan kedaulatan sedikit pun?.... Anehnya, Fatah berpesta dan meneriakkan nyanyian karena telah berhasil menghalangi Hamas dan milisinya dari sejumlah wilayah yang menjadi kekuasaannya. Padahal seharusnya Fatah menghalangi tentara Yahudi agar tidak bisa menerobos dan berjalan-jalan di wilayah yang menjadi kekuasaannya

Bukankah juga merupakan tindakan kriminal yang luar biasa besar, ketika Hamas, yang telah menjadi tambatan harapan masyarakat untuk membebaskan Palestina secara menyeluruh, ternyata perannya berhenti hanya sebagai pemerintah di bawah pendudukan di Gaza yang juga tidak memiliki daya, kekuatan, dan kedaulatan sedikit pun? Anehnya, Hamas menunaikan shalat sebagai wujud syukur kepada Allah karena telah berhasil membebaskan Gaza dari tangan Fatah dan milisinya. Padahal seharusnya Hamas membebaskan Gaza dari kekuasaan dan politik Yahudi yang terus mencengkeram Gaza dengan penuh rasa permusuhan, baik pagi maupun petang.

Bukankah merupakan tindakan kriminal yang luar biasa besar, ketika kedua kelompok tersebut justru mewujudkan apa yang tidak mampu diwujudkan oleh entitas Yahudi itu sendiri, dengan memproklamirkan secara terbuka dan terang-terangan pemisahan Tepi Barat dan Gaza; bukan hanya sekadar nama, tetapi secara nyata, dengan gambar dan wujud fisik?

Bukankah juga merupakan tindakan kriminal yang luar biasa besar, bahkan lebih besar dari sebuah skandal, ketika darah-darah suci penduduk Palestina tumpah di tangan orang yang mengumumkan diri—sebagai satu kebohongan atau penipuan—berjuang dalam rangka melindungi darah penduduk Palestina?

Wahai Kaum Muslim:

Sudah jelas bagi siapa pun yang masih bisa melihat, bahwa dengan penandatanganan Kesepakatan Makkah, jebakan yang dialamatkan kepada Hamas untuk terlibat dalam Pemilu dan dipermudah kemenangannya, serta menerima pemerintahan di bawah pendudukan, telah membuahkan hasil! Tujuan disatukannya kelompok islami dengan kelompok sekular dalam satu kesepakatan, berdasarkan keputusan internasional berkaitan dengan masalah Palestina, yang kemudian semuanya sepakat terhadap adanya entitas Yahudi di Palestina tahun 1948, adalah agar masalahnya berubah menjadi masalah kewilayahan yang diduduki pada tahun 1967. Ketika perubahan masalah tersebut terjadi melalui keputusan penduduk Palestina, baik melalui pemimpin mereka dari kalangan sekular maupun islami, seluruh faksi di Palestina kemudian menyetujui kesepakatan itu. Tidak ada faksi yang menolak kecuali al-Jihâd al-Islâmî, yang menolak kesepakatan tersebut secara menyeluruh, dan Front Rakyat (al-Jabhah asy-Sya’biyah) yang menolak secara parsial.
Pengumuman Kesepakatan Makkah (Februari 2007) merupakan penyempurnaan dari pengumuman Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) di Aljazair (Oktober 1988). Dalam pengumuman itu, PLO di bawah pimpinan Fatah menyetujui, bahwa masalah Palestina direduksi hanya pada isu kewilayahan yang diduduki pada tahun 1967. Karena pihak yang menandatangani persetujuan tersebut pada waktu itu adalah kelompok sekular, maka mereka membutuhkan tanda tangan dari kelompok islami. Ini berhasil diwujudkan dalam Kesepakatan Makkah. Kesepakatan Makkah itu sebelumnya diawali dengan pertempuran antara Fatah dan Hamas. Ini tentu membuat masyarakat awam, dari kalangan penduduk Palestina, menduga bahwa kesepakatan tersebut bertujuan untuk menghentikan pertumpahan darah. Mereka lupa dengan tujuan politik dari kesepakatan tersebut.

Juga sangat jelas bagi siapa pun yang masih melihat, bahwa keberhasilan Hamas menduduki tampuk pemerintahan telah menciptakan adanya dua kepemimpinan di dalam pemerintahan. Satu pihak (Fatah) untuk Otoritas (Palestina), satu lagi (Hamas) untuk Pemerintahan. Maksudnya adalah untuk menyatukan dua kesepakatan yang ditandatangani, poin demi poin, yang mewakili kelompok sekular dan islami. Amerika dan entitas Yahudi, kedua-duanya jelas tidak menginginkan Hamas memiliki peranan yang real, kecuali hanya menandatangani kesepakatan itu. Bahkan Amerika dan entitas Yahudi ingin menggabungkan Hamas ke dalam PLO dengan perubahan yang tidak menyentuh substansi. Tujuannya, agar pemimpin yang lebih menonjol dan berperan adalah pemimpin Otoritas Palestina (Fatah). Asumsinya, bahwa Eropa khususnya Inggris, menginginkan agar Hamas, yang merupakan pemimpin pemerintahan, tetap memiliki peran di dalam otoritas Palestina tersebut.

Titik kritis Fatah di mata masyarakat adalah nafsu kekuasaannya yang sangat besar melampaui batas. Sebaliknya, masyarakat memandang Hamas tidak seperti itu. Karena itu, maka langkah pertama adalah menyatukan Hamas dengan Fatah di sini. Dengan begitu, masyarakat pun menilai, bahwa ambisi kekuasaan yang dimiliki Hamas juga sangat besar melebihi anggapan yang ada selama ini. Ini untuk memudahkan kembalinya Otoritas Palestina tersebut dalam satu pemimpin dan memudahkan penyatuan Hamas ke dalam tubuh PLO, lalu masyarakat pun bisa menerima kembali masalah ini dengan anggapan bahwa Hamas juga mempunyai ambisi kekuasaan yang sama dengan PLO.

Wahai Kaum Muslim,
Wahai Penduduk Palestina:


Sudah menjadi kebiasaan kaum kafir penjajah, bahwa untuk meraih semua tujuannya, mereka harus merekayasa krisis sampai pada titik terjadinya pertikaian, bahkan lebih dari itu. Begitulah kenyataannya. Sebagaimana yang terjadi pada kasus pertikaian antara Fatah dan Hamas yang sebelumnya, adalah untuk menyiapkan atmosfer penandatanganan Kesepakatan Makkah sekaligus menjadi aksi untuk merelease kesepakatan tersebut. Sebab, pertikaian tersebut membuat penduduk Palestina berpikir keras untuk menghentikan pertikaian, dan akhirnya melupakan bencana politik dari Kesepakatan Makkah itu. Pertikaian Fatah dengan Hamas sekarang ini juga membuat mereka (penduduk Palestina) berada dalam cengkeraman, karena milisi yang ada di bawah Fatah mengobarkan kekacauan terhadap Hamas di Gaza. Hamas tidak menyelesaikannya dengan bersikap sabar dan membongkar skenario tersebut kepada masyarakat. Hamas justru membalasnya dengan melakukan pembunuhan dan menumpahkan darah sampai menimpa para orang tua, wanita, dan anak-anak, bahkan pepohonan dan batu, dalam sebuah pembantaian yang sangat keji. Mereka seolah lupa dengan hadis Rasulullah saw. yang dituturkan Abdullah bin ‘Amru, bahwa Nabi saw. bersabda:
لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ
Sungguh, lenyapnya dunia ini lebih ringan bagi Allah daripada membunuh jiwa seorang Muslim (HR at-Tirmidzi, an-Nasa’i dan Ibn Majah; lafazh menurut at-Tirmidzi).
Sesungguhnya tidak adanya kesadaran politik dalam tubuh Hamas, juga perjalanannya yang tanpa disertai dengan kesadaran politik, itulah yang menyebabkan Hamas terjerumus ke dalam krisis demi krisis; bahkan sampai pada titik di mana mereka harus menumpahkan darah kaum Muslim yang tidak berdosa dengan cara zalim dan penuh permusuhan. Namun, Hamas justru menganggap dirinya melakukan kebaikan, bahkan untuk itu mereka melakukan sujud syukur kepada Allah.
Sekarang Hamas telah menguasai Gaza dan memiliki pemerintahan sendiri. Sebaliknya, penguasa (Fatah) menguasai Tepi Barat dan menguasai pemerintahan. Keduanya akan berlomba-lomba dalam keburukan dalam sebuah konflik, baik jangka panjang maupun pendek. Semuanya itu justru demi kepentingan Yahudi yang ingin mencabik-cabik apa yang masih tersisa dari Palestina dan menciptakan sekat-sekat di tengah-tengah penduduknya dalam bentuk permusuhan dan kebencian akibat pembunuhan yang terjadi. Apakah kaum Yahudi itu mampu melakukan semuanya itu seandainya tidak menggunakan tangan-tangan para pemimpin yang ada?!

Wahai Kaum Muslim,
Wahai Penduduk Palestina:

Sesungguhnya Hizbut Tahrir menyerukan kepada orang-orang ikhlas yang masih ada, baik di dalam tubuh Fatah maupun Hamas, agar mereka menutup kantor-kantor Otoritas Palestina (Fatah) dan Pemerintah (Hamas) di bawah pendudukan tersebut. Mereka sendirilah yang harus menindak langsung orang-orang yang ikut andil hanya dalam perolehan kursi serta menyimpang dan jatuh di dua wilayah pemerintahan, yaitu Gaza dan Tepi Barat. Mereka juga harus bersikap di hadapan orang-orang tersebut dengan sikap yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya—sebuah sikap yang akan dituliskan cahaya untuk mereka, baik di dunia maupun di akhirat. Hal itu akan menyelamatkan mereka dari kehinaan di dunia dan siksa yang pedih di akhirat. Sebab, terus-menerus berada di panggung sandiwara Otoritas Palestina (Fatah) dan Pemerintah (Hamas) yang berada di bawah pendudukan yang didirikan di atas tengkorak kaum Muslim yang terpenggal, nyawa kaum Muslim yang dihilangkan, dan darah-darah mereka yang ditumpahkan, terus-menerus berada dalam kondisi seperti ini, sungguh merupakan pengkhianatan kepada Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang Mukmin.

Sesungguhnya kami menyeru dan terus menyeru orang-orang ikhlas yang masih ada, baik dari kalangan Fatah maupun Hamas, agar mereka mengembalikan masalah ini ke masalah asalnya, yaitu menghancurkan entitas Yahudi mulai dari akar-akarnya dan mengembalikan Palestina secara menyeluruh sebagai bagian dari negeri-negeri Islam. Jika mereka belum mampu mewujudkannya saat ini, paling tidak, mereka harus tetap berada di parit-parit yang telah mereka siapkan, dan bersikap teguh dalam posisi-posisi yang mereka ambil. Semuanya itu agar menjadi jalan pembuka bagi pembebasan yang pernah diwujudkan melalui tangan-tangan tentara Khalifah ar-Rasyid ‘Umar yang telah membebaskannya pertama kali, melalui tentara Khalifah an-Nashir al-‘Abbasiy di bawah panji Panglima Shalahuddin yang telah membebaskan al-Quds dari tangan pasukan Salib, dan kelak melalui tangan-tangan tentara pembebas yang akan membebaskan al-Quds untuk terakhir kalinya:

Pada hari itu orang-orang Mukmin bergembira dengan pertolongan dari Allah (QS ar-Rûm [30]: 4-5).

1 comments:

  1. kenapa ya hamas dan fattah terus saling membunuh, hari ini di tv disiarkan lagi bahwasannya 6 orang tewas saat konvlik hamas dan fattah..

    bukankah rasulullah berkata :
    Sungguh, lenyapnya dunia ini lebih ringan bagi Allah daripada membunuh jiwa seorang Muslim (HR at-Tirmidzi, an-Nasa’i dan Ibn Majah; lafazh menurut at-Tirmidzi).

    ReplyDelete