.

..

Thursday, November 8, 2007

Ada Aja yang Memelihara Istilah yang Salah dalam Masyarakat

Aneh memang jika ada orang yang menggunakan kata dengan makna yang salah di tengah2 masyarakat. Padahal dia tahu itu salah. Klo lah orang tersebut tidak tahu makna kata yang digunakannya, maka hal tersebut dapat dimaklumi sebagai perkataan orang yang jahil (bodoh) yang memang lebih mencari tahu ataupun diberi tahu. Penggunaan kata dengan makna yang berbeda tentunya akan membuat pendengar bingung dan juga akan menjadi andil dalam mendarah dagingnya makna yang salah tersebut di tengah-tengah masyarakat.....
Sebagai contoh jika celana dimaknai dengan baju dan sebaliknya baju dimaknai dengan celana. Ketika menggunakan makna yang salah dan mendengar perkataan orang bahwa ‘baju si Anu ¾’, maka klo kita menggunakan makna istilah sebenarnya akan terbayanglah bahwa si Anu tentu pusarnya kelihatan. Si Anu tentunya kedinginan dan perlu dipinjamin sarung yang akan membuatnya lebih beradab. Kacian si Anu,..dst..dst. Padahal yang dimaksud dengan ‘bajunya ¾’ itu menggunakan makna yang salah.
Pada kenyataanya ada juga kejadian seperti contoh si Anu (dengan kasus yang berbeda) dan terjadinya di 2 negara pecahan Daulah Khilafah yang dihapuskan oleh Mustafa Kemal tahun 1924, yaitu Malaysia dan Indonesia. Apaan sech ? Penggunaan istilah dengan makna yang salah ini adalah istilah jilbab. Pada kedua negeri yang belum merdeka sepenuhnya ini, istilah jilbab diartikan sebagai penutup kepala sampai kedada. Jilbab merupakan salah satu bentuk ketaatan perempuan kepada Penciptanya, yaitu ketika jilbab tersebut digunakan. Namun bagaimana bisa disebut sebuah ketaatan jika mereka memaknai kata jilbab tersebut dengan makna yang salah. Alhasil kataatan mereka ibarat ketaatan seseorang yang menganggap sudah melakukan sholat setelah berwudhu. Dengan kata lain ketaatanya g’ sempurna.
Well, jika kita melihat ke sumber petunjuk manusia hidup di bumi ini, maka kita dapat dengan mudah mengetahui bahwa pemaknaan jilbab yang umum di Indonesia adalah salah.
Lets check out your Qur’an:
Dalam surat An Nur: 31, wal-yadribna bi khumurihinna ala juyubihinna (dan hendaklah menutupkan kain kudung –khimar, khumur adalah jamaknya- ke juyubnya). Pada ayat ini jelas sekali bahwa yang menutupi sampai juyub itu adalah khimar alias kerudung, bukan jilbab.
Di tempat lain, al Ahzab: 59, yudnina alayhinna min jalabib hinna (hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka). Dari ayat ini jelas sekali bahwa jilbab adalah pakaian yang terulur keseluruh tubuh yang mana merupakan satu kali ulur. Dalam ayat tersebut terdapat kata “yudniina” yang artinya adalah yurkhiina ila asfal (mengulurkan sampai ke bawah/kedua kaki). Penafsiran ini —yaitu idnaa’ berarti irkhaa’ ila asfal— diperkuat dengan dengan hadits Ibnu Umar bahwa dia berkata, Rasulullah Saw telah bersabda:
“Barang siapa yang melabuhkan/menghela bajunya karena sombong, maka Allah tidak akan melihatnya pada Hari Kiamat nanti.’ Lalu Ummu Salamah berkata,’Lalu apa yang harus diperbuat wanita dengan ujung-ujung pakaian mereka (bi dzuyulihinna).” Nabi Saw menjawab,’Hendaklah mereka mengulurkannya (yurkhiina) sejengkal (syibran)’ (yakni dari separoh betis). Ummu Salamah menjawab, ‘Kalau begitu, kaki-kaki mereka akan tersingkap.’ Lalu Nabi menjawab, ‘Hendaklah mereka mengulurkannya sehasta (fa yurkhiina dzira`an) dan jangan mereka menambah lagi dari itu.” [HR. At-Tirmidzi, juz III, hal. 47; hadits sahih] (Al-Albani, 2001 : 89).

Hadits di atas dengan jelas menunjukkan bahwa pada masa Nabi Saw, pakaian luar yang dikenakan wanita di atas pakaian rumah —yaitu jilbab— telah diulurkan sampai ke bawah hingga menutupi kedua kaki.

Berarti jilbab adalah terusan, bukan potongan. Sebab kalau potongan, tidak bisa terulur sampai bawah. Atau dengan kata lain, dengan pakaian potongan seorang wanita muslimah dianggap belum melaksanakan perintah “[/i]yudniina ‘alaihinna min jalaabibihina[/i]” (Hendaklah mereka mengulurkan jilbab-jilbabnya). Di samping itu kata min dalam ayat tersebut bukan min lit tab’idh (yang menunjukkan arti sebagian) tapi merupakan min lil bayan (menunjukkan penjelasan jenis). Jadi artinya bukanlah “Hendaklah mereka mengulurkan sebagian jilbab-jilbab mereka” (sehingga boleh potongan), melainkan Hendaklah mereka mengulurkan jilbab-jilbab mereka (sehingga jilbab harus terusan) (An-Nabhani, 1990 : 45-51).

Para ulama tempo doelu hanya berbeda pendapat mengenai bentuk jilbab, yaitu penutup kepala dan badan merupakan satu terusan, atau tidak, serta niqab (cadar) bagian dari jilbab atau tidak. Bukan perihal apakah jilbab itu potongan atau tidak. Pengertian seperti inilah yang beredar di negeri2 arab, n etc. Jadi klo kita mengunjungi toko jilbab baik di Internet ataupun yg realnya, maka akan ditemukan bentuk2 jilbab adalah pakian terusan tanpa potongan.

Coba deh tanyakan ke orang Mesir, Qatar, etc, jawaban yang didapat adalah jilbab = abaya.
Kesalahan makna ini seharusnya harus diungkap, bukannya disembunyikan lantas menggunakan makna salah yang diadopsi masyarakat.
Heran juga kok kesalahan ini bisa terjadi. What ever, yang jelas jika sudah tahu perihal ini dan tetep juga menggunakan makna yang salah, apalagi yang salah itu didakwahkan, berarti sama aja mendakwahkan sesuatu yang salah, yang bukan dari Islam. Yang namanya kesalahan itu harus segera dirubah, bukan malah dipelihara apalagi disebar luaskan. Penyebar luasan sesuatu yang salah, sama aja memperbodoh masyarakat.

If u wanna get the complete dalil, click www.Al-Muhajabah.com. ....

2 comments:

  1. Akhwatnya cantik.
    Akhi/Ukhti, jangan sampai kebanggaan pada kelompok sendiri menghilangkan ukhuwah Islam kita. Hilangkan ashobiyah, mari bersatu berjuang memformalkan syariat Islam di Indonesia!

    ReplyDelete
  2. BETUL SEKALI. MAKNA JILBAB MEMANG SUDAH JELAS AA DI AL-QUR`AN, TAPI DI INDONESIA MAKNANYA JADI KABURR, GAK JLAS GTU. INI BUKAN PERSOALN ASOBIYAH, TAPI SEJAUH MANA KITA SUDAH FAHAM AL-QUR`AN DAN AS-SUNNAH,SEBELUM KITA MEMFORMALKAN SYARIAT ISLAM, KITA HRUS FAHAM DULU SYARIAT ISLAM YAITU TERKANDUNG DALAM AL-QUR`AN DAN AS-SUNNAH ,AGAR APA YAG KITA SAMPAIKAN KE MASYARAKAT JELAS DARI SITU, BUKAN NGARANG,ATAU NGIRA2,APALAGI JIKA SYARIAT ISLAM DIKOMPROMIKAN DENGAN ZAMAN. SYARIAT ISAM ITU JELAS,TEGAS, TIDAK FATAMORGANA,TIDAK ABU-ABU,TIDA HITAM TAPI PUTIH.MAKA, MARI FAHAMI SYARIAT ISLAM DENGAN MEMAHAMI AYAT2 AL-QUR`AN DAN AS-SUNNAH.JANGAN SETENGAH-SETENGAH,HARUS KAFFAH.

    ReplyDelete